TEORI
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Tugas
Review Materi Perkuliahan
IRSAN
SUMARNA
3315140662
PENDIDIKAN
KIMIA BILINGUAL 2014
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI JAKARTA
TUGAS REVIEW
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
NAMA
: IRSAN SUMARNA
NIM : 3315140662
PRODI :
Pendidikan Kimia Bilingual 2014
MATERI
1 : TEORI BEHAVIORISTIK
Teori behavioristik
adalah teori yang memusatkan pada perilaku-perilaku nyata yang biasa diteliti
dan diukur (Good dan Brophy, 1995). Teori ini memandang pikiran sebagai “kotak
hitam”, yang berarti bahwa respons terhadap stimulus bisa diamati secara kuantitatif,
yang secara total mengabaikan kemungkinan proses pemikiran yang terjadi dalam
pikiran.
Teori belajar
behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat
diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan
(stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan
hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak,
baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan
respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans.
Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R
(stimulus-Respon).
Teori
Behavioristik:
1. Mementingkan
faktor lingkungan
2. Menekankan
pada faktor bagian
3. Menekankan
pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
4. Sifatnya
mekanis
5. Mementingkan
masa lalu
Teori
belajar behavioristik merupakan teori yang difokuskan pada perilaku-perilaku
yang dapat dipelajari dan diukur. Teori belajar ini berpusat pada yang dilihat
dan didengar pada objek yang sedang diamati. Ketika perilaku tersebut berulang
kali dilakukan maka itu bisa disebut sebagai kebiasaan dan dapat dijadikan
suatu tetapan. Namun tetapan tersebut bisa jadi negatif dan bisa jadi positif,
tergantung pada respon objek. Teori belajar behavioristik sangat baik dalam
memaparkan fakta karna teori belajar ini berpusat pada perilaku dan respon yang
diberikan secara fakta yang benar-benar terjadi.
MATERI 2 : TEORI
KOGNITIVISTIK
Istilah
"Cognitive" berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian,
mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan,
penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian
istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi
manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi
setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman,
memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi,
pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan
keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan
konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut
para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa
didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana
tingkah laku itu terjadi.
Teori
kognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi
adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat,
menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi
menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognitif menyatakan bahwa proses
belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek kognisi
seseorang. Teori belajar kognitiv lebih mementingkan proses belajar daripada
hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara
stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang
sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan
persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa
diamati.Dari beberapa teori belajar kognitif diatas (khusunya tiga di
penjelasan awal) dapat pemakalah ambil sebuah sintesis bahwa masing masing
teori memiliki kelebihan dan kelemahan jika diterapkan dalam dunia pendidikan
juga pembelajaran. Jika keseluruhan teori diatas memiliki kesamaan yang
sama-sama dalam ranah psikologi kognitif, maka disisi lain juga memiliki
perbedaan jika diaplikasikan dalam proses pendidikan. Sebagai misal, Teori
bermakna ausubel dan discovery Learningnya bruner memiliki sisi pembeda. Dari
sudut pandang Teori belajar Bermakna Ausubel memandang bahwa justeru ada bahaya
jika siswa yang kurang mahir dalam suatu hal mendapat penanganan dengan teori
belajar discoveri, karena siswa cenderung diberi kebebasan untuk mengkonstruksi
sendiri pemahaman tentang segala sesuatu. Oleh karenanya menurut teori belajar
Bermakna guru tetap berfungsi sentral sebatas membantu mengkoordinasikan
pengalaman-pengalaman yang hendak diterima oleh siswa namun tetap dengan
koridor pembelajaran yang bermakna. Dari poin diatas dapat pemakalah ambil
garis tengah bahwa beberapa teori belajar kognitif diatas, meskipun sama-sama
mengedepankan proses berpikir, tidak serta merta dapat diaplikasikan pada
konteks pembelajaran secara menyeluruh. Terlebih untuk menyesuaikan teori
belajar kognitif ini dengan kompleksitas proses dan sistem pembelajaran
sekarang maka harus benar-benar diperhatikan antara karakter masing-masing
teori dan kemudian disesuakan dengan tingkatan pendidikan maupun karakteristik
peserta didiknya.
Teori
kognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi
adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat,
menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi
menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Adapun teori yang tekenal antara lain:
1. Jean
Piaget, teorinya disebut "Cognitive Developmental" yang Dalam
teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari
fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak,
2. Teori
Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner, yang dimana Burner memandang
perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner,
perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan,
terutama bahasa yang biasanya digunakan.
3. Teori
Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel, yang mengatakan bahwa siswa
akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian
dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan
demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa.
MATERI 3 : TEORI
KONSTRUTIVISTIK
Istilah
constructivism (yang dalam Bahasa Indonesia diserap menjadi konstruksivisme)
berasal dari kata kerja Inggris "to construct". Kata ini merupakan
serapan dari bahasa Latin "construere" yang berarti menyusun atau
membuat struktur. Konsep inti konstruktivisme dengan demikian adalah proses penstrukturan
atau pengorganisasian. Secara istilah, konstruktivisme merupakan suatu aliran
filsafat ilmu, psikologi dan teori belajar mengajar yang menekankan bahwa
pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Dewasa ini, muncul
kecenderungan penerapan teori konstruktivisme dalam pendidikan/pembelajaran
secara luas. Teori konstuktivistik memahami belajar sebagai proses pembentuka
(Konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam
diri sendiri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat
dipindahkan begitu saja dari otak seseorang guru kepada orang lain(siswa). Oleh
karena itu siswa harus dapat memahami apa yang telah diajarkan melalui
konstruksi yang telah dibangun sebelumnya.
Konstruktivis
melihat belajar sebagai proses aktif pelajar mengkonstruksi arti baik dalam
bentuk teks, dialog, pengalaman fisis, ataupun bentuk lainnya. Von Glasersfeld
menyatakan bahwa dalam perspektif konstruktivis, belajar bukan suatu perwujudan
hubungan stimulus-respons(tambahin). Belajar memerlukan pengaturan diri dan
pembentukan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi. Fosnot
menambahkan, tujuan belajar lebih difokuskan pada pengembangan konsep dan
pemahaman yang mendalam daripada sekedar pembentukan perilaku atau keterampilan.
Dalam
paradigma ini, belajar lebih menekankan proses daripada hasil. Implikasinya,
'berpikir yang baik' lebih penting daripada 'menjawab yang benar'. Seseorang
yang bisa berpikir dengan baik, dalam arti cara berpikirnya dapat digunakan
untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam
menghadapi persoalan yang lain. Sementara itu, seorang pelajar yang sekadar
menemukan jawaban benar belum tentu sanggup memecahkan persoalan yang baru
karena bisa jadi ia tidak mengerti bagaimana menemukan jawaban itu. Bila proses
berpikirnya berdasarkan pengandaian yang salah atau tidak dapat diterima pada
saat itu, maka ia masih dapat memperkembangkannya.
Teori
konstruktivisme merupakan teori belajar dimana belajar sebagai proses aktif,
pelajar mengkonstruksikan arti baik dalam bentuk teks, dialog, pengalaman
fisis, ataupun bentuk lainnya. Belajar memerlukan pengaturan diri dan
pembentukan struktur konseptual melalui refleksi dan abstraksi. Dalam paradigma
ini, belajar lebih menekankan proses daripada hasil. Menurut pandangan
konstruktivis, belajar pertama-tama memang kegiatan individual di mana
masing-masing siswa membentuk pengetahuannya sendiri. Siswa sendirilah yang
bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Guru berperan membantu agar proses
pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar dan tidak
mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa
membentuk pengetahuannya sendiri. Dengan demikian, mengajar dalam pandangan
konstruktivisme diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk
memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Guru lebih berperan
sebagai fasilitator dan motivator belajar.
MATERI 4 : MOTIVASI I
Belajar merupakan
kegiatan sehari-hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dilakukan dimana saja dan
kapan saja. Tetapi kegiatan belajar tersebut tergantung dari minat dan
keinginan masing-masing individu. Belajar membutuhkan motivasi dari keluarga,
pendidik, lingkungan, dan diri sendiri. Dalam makalah ini kami tidak hanya
membahas motivasi bagi peserta didik tetapi kami juga membahas motivasi bagi
para pendidik. Peranan dan pentingnya motivasi sangat berpengaruh dalam proses
belajar dan pembelajaran. Maka dari itu dalam makalah ini kami membahas tentang peranan
motivasi dalam proses belajar dan pembelajaran.
Motivasi
berasal dari bahasa latin “movere”,
yang berarti bergerak. Berdasarkan
pengertian ini, maka motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan
motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku
tertentu, yang memberi
arah serta ketahanan (persistence)
pada tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernapaskan behaviorisme, sedangkan Imron (1996) menjelaskan bahwa
motivasi berasal dari bahasa inggris yaitu motivation,
yang berarti dorongan pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong,
menyebabkan, dan merangsang. Motif sendiri berarti alasan, sebab dan daya
penggerak (Echols, 1984 dan Imron 1999).
Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu
tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang
diinginkan (Suryabrata, 1984).
Motivasi
dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri individu tanpa adanya
rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang
berasal dari luar misalnya pemberian pujian, pemberian nilai sampai pada
pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong
motivasional.
Fungsi motivasi dalam pembelajaran
diantaranya:
1. Mendorong timbulnya tingkah laku
atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya
belajar.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah,
artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Motivasi berfungsi sebagai
penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi
akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Secara garis besar, teori motivasi
dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yaitu teori motivasi dengan pendekatan
isi/kepuasan (content theory), teori
motivasi dengan pendekatan proses (process
theory) dan teori motivasi dengan pendekatan penguat (reinforcement theory). Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan
(energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya
dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu
itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi
ekstrinsik).
Bahwasannya motivasi
belajar bukan hanya untuk peserta didik, namun juga bagi
pendidik. Motivasi belajar bertujuan untuk mendorong mental yang menggerakkan
dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi belajar
terdapat optimalisasi penerapan fungsi belajar, optimalisasi belajar, dan unsur
pembelajaran.
MATERI 5 : PENDEKATAN MULTIPLE INTELLIGENCESS
Pada
awalnya, Multiple Intelligencess merupakan sebuah konsep psikologi yang dikemukakan
psikolog Howard Gardner. Namun, beberapa ahli pendidikan Amerika menilai bahwa
konsep sembilan tipe kecerdasan ini sangat berguna untuk memecahkan misteri
“pembelajaran puritan” di sekolah-sekolah.
Dalam hal ini “Pendekatan Multiple
Intelligencess” adalah sebuah istilah untuk menyederhanakan bentuk umum
yang melingkupi metode serta teknik pembelajaran di kelas. Pendekatan adalah
tingkat asumsi atau pendirian mengenai seperangkat pengajaran tentang sebuah
pengajaran. Contoh pendekatan pembelajaran bahasa misalnya pendekatan
komunikatif. Asumsi dalam pendekatan Multiple
Intelligencess ini adalah sebuah konsep dasar bahwa setiap anak
memiliki sembilan keceradasan majemuk yang terus menerus berkembang.
Teori Multiple Intelligences digunakan
sebagai pendekatan pembelajaran, karena di dalamnya membicarakan tentang
keberagaman yang bertautan dengan kompetensi peserta didik. Pendekatan
pembelajaran Multiple Intelligences merupakan kecerdasan yang lebih menonjolkan
pada diri siswa seoptimal mungkin dan berupaya mempertahankan kecerdasan
lainnya pada standar minimal yang ditentukan oleh lembaga atau sekolah. Dengan
demikian penggunaan pendekatan pembelajaran Multiple Intelligences tetap berada
pada posisi yang selalu menguntungkan pada siswa yang selalu menggunakannya.
Satu hal yang pasti, siswa akan keluar sebagai individu yang memiliki jati
diri, yang memiliki potensi juga pada salah satu atau lebih dari sembilan jenis
kecerdasan yang dimilikinya.
Metode
adalah bentuk penjabaran sebuah pendekatan pembelajaran. Metode adalah tingkat
penerapan teori-teori yang didasarkan kepada satu jenis pendekatan sehingga
merupakan rancangan yang menyeluruh dari jenis keterampilan yang akan dikuasai
pembelajar, materi-materi yang harus digunakan, serta penyusunan urutan
penyajian. Dengan demikian, metode lebih bersifat prosedural yang mencakup
beberapa kegiatan persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.
(Antony,1997).
Metode
terdiri atas metode umum dan metode khusus. Metode umum adalah metode yang
dapat digunakan untuk seluruh mata pelajaran.Sedangkan metode khusus adalah
metode yang hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu. Metode umum dalam
pengajaran klasikal misalnya metode ceramah. Metode ini dianggap dapat digunakan
untuk mata pelajaran apapun. Sedangkan metode khusus misalnya metode untuk
pembelajaran bahasa di kelas bahasa, misalnya metode tata bahasa terjemahan,
metode SAS (Struktural Analitik Sintetik), dan sebagainya
Inteligensi adalah kesanggupan untuk menyesuaikan
diri kepada kebutuhan baru dengan menggunakan alat alat berpikir yang sesuai
dengan tujuan. Menurut Gardner, intelegensi (kecerdasan) diartikan sebagai
kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang beragam dan dalam situasi yang
nyata. Menurutnya suatu kemampuan disebut intelegensia (kecerdasan) jika :
1.
Menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang dalam
memecahkan persoalan dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya,
2.
Ada unsur pengetahuan dan keahlian,
3.
Bersifat universal harus berlaku bagi banyak orang,
4.
Kemampuan itu dasarnya adalah unsur biologis, yaitu karena otak seseorang, bukan sesuatu yang
terjadi karena latihan atau training,
5.
Kemampuan itu sudah ada sejak lahir, meski di dalam
pendidikan dapat dikembangkan.
Adapun pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Gardner
adalah:
1.
Manusia memiliki kemampuan meningkatkan dan
memperkuat kecerdasannya,
2.
Kecerdasan selain dapat berubah dapat juga
diajarkan kepada orang lain,
3.
Kecerdasan merupakan realitas majemuk yang
muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia,
4.
Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan
suatu kesatuan yang utuh, maknanya, dalam memecahkan masalah atau tugas
tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja secara bersama-sama.
Menurut teori kecerdasan
ganda yang telah dikembangkan selama lima belas tahun terakhir ini, menantang
keyakinan lama tentang makna cerdas. Gardner berpendapat juga bahwa kebudayaan
kita telah terlalu banyak memusatkan perhatian pada pemikiran verbal dan logis,
kemampuan yang secara tipikal di nilai dalam tes kecerdasan dan mengesampingkan
pengetahuan lainnya. Ia menyatakan sekurang-kurangnya ada sembilan kecerdasan
yang patut diperhitungkan secara sungguh-sungguh sebagai cara berpikir yang
penting.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang beragam dan dalam situasi yang
nyata. Di samping itu setiap manusia memiliki berbagai kecerdasan. Yang mana
dalam teri Gardner tentang Multiple Intelligences yang membagi sembilan macam
kecerdasan yang ada dalam diri manusia.
Oleh karena teori pendekatan
Multiple Intelligences yang dikemukakan oleg Gardner memiliki keunggulan yang
telah didukung oleh ahli pendidikan dan psikologi, maka pendekatan Multiple
Intelligences tersebut dapat diimplementasikan ke dalam proses pembelajaran
yang ada di dalam dunia pendidikan. Tanpa adanya Multiple Intelligences, sumber
daya manusia tidak akan bisa memanfaatkan berbagai macam kecerdasan yang telah
dimiliknya untuk dapat dikembangkan agar potensi-potensi itu mampu menciptakan
sesuatu yang baru dalam menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.
MATERI 6 : PENDEKATAN ACTIVE LEARNING
Pendekatan belajar
aktif adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara
belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini
merupakan tujuan akhir dari belajar aktif ( active learning). Untuk dapat mencapai
hal tersebut kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa agar bermakna bagi
siswa atau anak didik. Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga
semua anak didik mendapat mencapai hasil belajar yang memuaskan, sehingga semua
anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan
karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu, pembelajaran aktif (
active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik
agar tetap tertuju pada pembelajaran.
Belajar
yang bermakana terjadi bila siswa atau anak didik berperan secara aktif dalam
pembelajaran dan akhirnya mampu memutuskan apa yang akan dipelajari dan cara
mempelajarinya. Beberapa penelitian membuktikan, bahwa perhatian siswa(anak
didik), berkurang seiring dengan berlakunya waktu. Seperti penelitian yang
dikemukakan oleh Pollio ( 1984), bahwa perhatian siswa (anak didik) dalam
memperhatikan pembelajaran di ruang kelas hanya sekitar 40% dari waktu
pembelajaran waktu yang tersedia. Sedangkan Mc Keachie (1986) menyebutkan bahwa
dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai
20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi
umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya
terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan paa
kenyataan bahwa anak didik lebih banyak menggunakan indera pendengarannya
dibandingkan visual di ruang kelas.
Belajar
aktif memperkenalkan pendekatan yang lain daripada gambaran rutin pembelajaran
yang sekarang ini banyak terjadi. Belajar aktif menuntut keaktifan guru dan
juga siswa, belajar aktif juga mensyaratkan terjadinya interaksi yang tinggi
antara siswa dan guru. Oleh karena itu, siswa secar aktif dalam kegiatan yang
menantang kreativitas siswa, sesuai dengan karakteristik pelajaran yang
terintegritas dapat dilakukan oleh guru. Dengan demikian, guru juga dituntut
untuk dapat berkreasi dan menumbuhkan proses belajar aktif dalam pembelajaran
yang yang dibinanya. Satu pokok bahasan saja, tanpa harus bergantung pada mata
pelajaran lain atau pokok bahasan lain. Hal yang perlu menjadi acauan dalam
setiap kondisi adalah tujuan intruksional yang akan dicapai dalam proses
belajar aktif.
Strategi
yang dapat digunakan guru untuk mencapai pembelajaran siswa adalah, antara lain
seperti berikut ini :
a. Refleksi.
Guru dapat meminta siswa untuk secara merefleksikan hal-hal yang telah
dipelajarinya dalam pembelajaran.
Contohnya
: melalui jurnal opinion paper
b.
Pertanyaan
siswa (anak didik). Untuk setiap pokok
bahasan atau pertemuan, guru memberi tugas siswa untuk menuliskan
pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami, atau hal-hal yang
perlu dibahas bersama guru dan teman-teman siswa lainnya.
c.
Rangkuman.
Guru dapat membiasakan siswa untuk membuat rangkuman
terhadap hasil diskusi kelompok yang dilakukan atau sebagai tugas mandiri.
Selain itu, rangkuman tersebut juga dapat merupakan tugas untuk mengevaluasi
atau menilai sesuatu seperti buku, artikel, majalah, dan lain-lain berdasarkan
prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran.
d.
Pemetaan
kognitif. Pemetaan kognitif adalah alat untuk
membuat siswa aktif belajar tentang konsep-konsep(reposisi) dan skemanya.
Pemetaan kognitif juga dapat digunakan untuk menumbuhkan proses belajar aktif
siswa. Untuk dapat merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dan
menantang siswa secara intelektual, diperlukan guru yang kreativitas dan
profesionalisme tinggi.
MATERI 7 : SUMBER
BELAJAR
Terdapat
beberapa pengertian mengenai sumber belajar yang dikemukakan oleh para praktisi
pendidikan, yaitu sbagai berikut.
1. Sumber
belajar adalah sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan sengaja dan
dibuat agar memungkinkan siswa belajar sendiri secar individual ( Percival
& Ellington, 1998)
2. Semua
sumber yang dapat digunakan oleh pelajar baik secara terpisah maupun dalam
bentuk gabungan untuk memberikan fasilitas belajar ( AECT, 1986).
Dari
pengertian tersebut, maka maksud dari sumber belajar meliputi segala sesuatu
yang digunakan untuk memfasilitasi belajar. Sumber belajar tersebut meliputi;
pesan, manusia, material atau bahan, peralatan, teknik dan lingkungan yang
dipergunakan secara mandiri maupun dikombinasikan untuk memfasilitasi
terjadinya tindak belajar (AECT, 1997). Selanjutnya, menurut AECT sumber
belajar dapat dikelompokkkan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1. Sumber
belajar yang direncanakan ( by design) : semua sumber belajar yang secara
khusus telah dikembangkan sebagai “ komponen” sistem instruksional untuk
memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
2. Sumber
belajar karena dimanfaatkan ( by utilization) : sumber yang tidak secara khusus
didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan dan
digunakan untuk keperluan belajar.
Untuk
lebih memberikan gambaran rinci tentang macam-macam sumber belajar, berikut
dijabarkan satu per satu.
a) Pesan
( message) : informasi yanga akan disampaikan dalam bentuk ide, fakta, makna,
dan data
b) Manusia
(people) : orang-orang yang bertindak sebagi penyimpan, pengolah dan penyalur
pesan.
c) Bahan
media software ( materials) : perangkat lunak yang biasanya berisi pesan.
d) Peralatan
hardware ( device) : perangkat keras yang digunakan untuk menyampaikan pesan
yang terdapat dalam bahan.
e) Teknik
( technique) : prosedur atau langkah-langkah tertentu dalam menggunakan bahan,
peralatan, lingkungan dan orang-orang untuk menyampaikan pesan.
f)
Latar ( setting) :
lingkungan di mana pesan itu diterima oleh pemelajar.
Manfaat sumber belajar
adalah untuk memfasilitasi kegiatan belajar agar menjadi lebih efektif dan
efisien. Oleh karena itu, secara rinci manfaat dari sumber belajar itu adalah
sebagai berikut.
a) Dapat
memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan langsung, misalnya pergi
berdarmawisata ke pabrik-pabrik, ke pelabuhan-pelabuhan,dll.
b) Dapat
menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi, atau dilihat secara
langsung, misalnya model, denah, foto, film, dll.
c) Dapat
menambah dan memperluas cakrawala sains yang ada di dalam kelas, misalnya buku
teks, foto film, narasumber,dll.
d) Dapat
memberikan informasi yang akurat dan terbaru, misalnya buku teks , buku bacaan,
majalah dan lain-lain.
e) Dapat
membantu memecahkan masalah pendidikan baik makro maupun dalam lingkup mikro,
misalnya penggunaan modul untuk Universitas Terbuka dan belajar jarak jauh
(makro), simulasi, pengaturan lingkungan yang menarik, penggunaan OHP, dan film
(mikro).
f)
Dapat memberikan
motivasi positif, lebih-lebih bila diatur dan dirancang secara tepat.
g) Dapat
meransang untuk berpikir lebih kritis, meransang untuk bersikap lebih positif
dan meransang untuk berkembang lebih jauh , misalnya dengan membaca buku teks,
buku bacaan, melihat film, dan lain sebagainya yang dapat meransang pemakai
untuk berpikir, menganalisa, dan berkembang lebih lanjut.
Untuk memperoleh
manfaat yang lebih maksimal, maka kita harus mengetahui ciri-ciri dari sumber
belajar tersebut. Adapun ciri-ciri dari sumber belajar adalah sebagai berikut.
a) Mempunyai
daya atau kekuatan yang dapat memberikan sesuatu yang kita perlukan dalam
proses belajar. Jadi, walaupun ada sesuatu daya, tetapi tidak memberikan
sesuatu yang kita inginkan, sesuai dengan tujuan pengajaran, maka sesuatu daya
tersebut tidak dapat disebut sumber belajar. Misalnya, ada seorang ahli yang
dalam kesehatan, tetapi saat itu kita membutuhkan seorang ahli dalam bidang,
tetapi saat itu kita membutuhkan seorang ahli dalam bidang elektronika, maka
ahli dalam bidang kesehatan tersebut bukan sumber belajar, karena dia tidak
dapat memberi daya yang kita perlukan.
b) Sumber
belajar dapat merubah tingkah laku yang lebih sempurna sesgaruai dengan tujuan.
Apabila dengan sumber belajar membuat seseorang berbuat bersikap negatif, maka
sumber belajar tersebut tidak dapat disebut sebagai sumber belajar.
c) Sumber
belajar dapat digunakan secar sendiri – sendiri ( terpisah-pisah), tetapi juga
dapat dipergunakan secar kombinasi ( gabungan).
d) Sumber
belajar dibedakan menjadi dua, yaitu sumber belajar yang dirancang (by
designed), dan sumber belajar yang tinggal pakai (by utilization).
Sumber
belajar yang dirancang adalah sesuatu yang memang dari semula dirancang untuk
keperluan belajar, sedangkan sumber belajar yang tinggal pakai adalah sesuatu
yang mulanya tidak dimanfaatkan untuk kepentingan belajar, tetapi kemudian
dimanfaatkan untuk kepentingan belajar. Ciri utama sumber belajar yang tinggal
pakai adalah tidak terorganisir dalam bentuk isi yang sistematis, tidak
memiliki tujuan pembelajaran yang eksplisit, hanya dipergunakan menurut tujuan
tertentu dan bersifat insidental, dan dapat dipergunakan untuk berbagai tujuan
pembelajaran yang relevan dengan sumber belajar tersebut.
Selain
memiliki ciri-ciri seperti di atas, terdapat empat faktor yang berpengaruh
terhadap sumber belajar:
1. Faktor
perkembangan teknologi.
2. Faktor
nilai budaya setempat.
3. Faktor
ekonomi.
4. Faktor
pemakai.
Dengan
demikian, hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat memilih sumber belajar
adalah seperti berikut.
1.
Tujuan
yang ingin dicapai
2.
Ekonomis
3. Praktis dan sederhana
4. Mudah didapat
5. Fleksibel atau luwes
Belajar
berbasis aneka sumber mencakaup berbagai cara dan sarana . dalam pendekatan
ini, siswa dapat belajar dengan berbagai cara, mulai dari bantuan guru sampai
belajar secara mandiri ( Brown & Smith, 1996). BEBAS juga merupakan suatu
sistem belajar yang berorientasi pada siswa dengan menggunakan bahan-bahan
belajar mandiri atau yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran ( Ellington @
Harris, 1986). BEBAS adalah pendekatan belajar yang berorientasi pada siswa
dengan menggunakan sumber belajar manusiawi dan non manusiawi secara
optimal ( Percival & Ellington,
1988).
Belajar
berbasis aneka sumber terkait dengan beberapa pengertian dan sistem
pembelajaran,di antaranya: open learning,
distance learning, flexible learning, learning resources, dan resource based.
MATERI 8 : PENDEKATAN E
– LEARNING
Pendekatan
E-learning atau electronic learning
merupakan salah satu pendekatan pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan
perangkat elektronik, khususnya perangkat komputer. Oleh karena itu, e-learning
sering disebut juga ‘online course’. Soekartawi (dalam dewi salma P dan eveline
siregar,2004) mengemukakan bahwa dalam berbagai literatur, e-learning
didefinisikan sebagai pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa
tekhnologi, seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau
komputer.menurut seokarti ( 2004), dalam perkembangannya computer dipakai
sebagai alat bantu pembelajaran, karena itu dikenal dengan isitlah computer based learning (CBL) atau computer assisted learning (CAL).
Dalam
prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam perkembangannya,
computer yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara
electronic, kerena itu dikenal dengan istilah
1. Computer
based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan computer
2. Computer
assisted learning (CAL) yaitu pembelajran yang menggunakan alat bantu computer.
Setelah
itu teknologi pembelajaran terus berkembangan, namun pada prinsipnya teknologi
tersebut dapat dikelompikan menjadi dua,yaitu:
1. Technology
based learning: prinsipnya terdiri dari audio information seperti radio,
audiotape, voice mail telephone dan video information technologies seperti
videotape, video text, video massaging.
2. Technology
based web-learning; pada dasarnya adalah data information tekhnologi seperti
buletin board, internet dan e-mail.
Dalam
implementasi pembelajaran, terdapat model penerapan elearning yang bisa
digunakan,yaitu :
a. Selective
Model
Model
selektif ini digunakan jika jumlah computer di sekolah sangat terbatas
(misalnya hanya ada satu unit computer). Di dalam model ini, guru harus memilih
salah satu alat atau media yang tersedia yang dirasakan tepat untuk
menyampaikan bahan pelajaran. Jika guru menemukan bahan e-leaming yang bermutu
dari internet, maka dengan terpaksa guru hanya dapat menunjukkan bahan
pelajaran tersebut kepada siswa sebagai bahan demonstrasi saja. Jika terdapat
lebih dari satu computer di sekolah / kelas, maka siswa harus diberi kesempatan
untuk memperoleh pengalaman langsung.
b. Sequential
Model
Model
ini di gunakan jika jumlah computer di sekolah / kelas terbatas (misalnya hanya
dua atau tiga unit computer). para siswa dalam kelompok kecil secara bergiliran
menggunakan computer untuk mencari sumber pelajaran yang dibutuhkan. Siswa
menggunakan bahan e-learning sebagai bahan rujuakan atau untuk mencari
informasi baru.
c. Static
Station Model
Model
ini digunakan jika jumlah computer di sekolah / kelas terbatas, sebagaimana
halnya dalam sequential model. Di dalam model ini, guru mempunyai beberapa
sumber belajar yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Bahan
e-leaming digunakan oleh satu atau dua kelompok siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Kelompok siswa lainya menggunakan sumber
belajar yang lain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama.
d. Laboratory
Model
Model
ini di gunakan jika tersedia sejumlah computer di sekolah / laboratorium yang
dilengkapi dengan jaringan internet, dimana siswa dapat mengguunakannya secara
lebih leluasa (satu siswa satu computer). Dalam hal ini, bahan e-learning dapat
digunakan sebagai bahan pembelajaran mandiri Setiap model e-learning yang dapat
digunakan dalam pembelajaran diatas masing-masing mempunyai kekuatan dan
kelemahan- Pemilihannya tergantung infrashrktur telekomunikasi dan peralatan
yang tersedia disekolah. Bagaimanapun upaya pernbelajaran dengan pendekatan
e-learning ini perlu terus dicoba dalam rangka mengatasi
perrnasalahan-permasalahan yang dihadapi dimasa yang akan datang.
Dari
pembhasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa E learning dapat menefektifitaskan pembelajaran namun terdapat
kendala dalam penerapannya. E learning menjadikan pembelajaran lebih efektif
karena dapat membantu peserta didik mandiri. Peserta didik berperan aktif dalam
pembelajaran dan pendidik menjadi fasilitator. Pembelajaran dapat dilakukan
dalam jarak dan waktu yang berbeda. Namun terdapat kendala pada dana,
infrastruktur, dan juga kemampuan peserta didik dan pendidik. Jika ingin
menciptakan pembelajaran yang efektif menggunakan E learning maka semua lembaga
pendidikan mulai dari yang terendah sampai tertinggi harus bekerja sama untuk membangun infrastruktur dan
pembelajaran tentang E learning.
MATERI 9 : PENDEKATAN
BELAJAR KOOPERATIF
Dari
beberapa definisi para ahli dapat diperoleh bahwa pendekatan belajar kooperatif
merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok
kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam
proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai
jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Falsafah
yang mendasari pendekatan belajar cooperative
learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini
socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Pendekatan belajar
kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping pendekatan
belajar kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik,
pendekatan belajar kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan
sosial siswa.
Unsur-unsur
dan karakteristik pendekatan belajar kooperatif
A. Unsur-unsur
pendekatan belajar kooperatif
1.) Saling
ketergantungan positif
Saling ketergantungan
positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa
saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal.
2.) Tanggung jawab perseorangan
Pendekatan belajar
kooperatif juga ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi
pelajaran secara individual.
3.) Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka
menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka
dapat melalukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama
siswa.
4.) Komunikasi antar
anggota kelompok
Dalam pendekatan
belajar kooperatif keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan
terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahan
pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain
yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi sengaja diajarkan dalam
pendekatan belajar kooperatif ini.
5.) Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan
waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil
kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
B. Karakteristik
pendekatan belajar kooperatif
1.)
Dalam kelompoknya, siswa haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup
sepenanggungan”.
2.)
Siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam kelompok, di samping
tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang
dihadapi.
3.)
Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki
tujuan yang sama.
4.)
Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota
kelompoknya.
5.)
Siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap
evaluasi seluruh anggota kelompok.
6.)
Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar
bersama selama proses belajarnya.
7.)
Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang
ditangani di dalam kelompoknya.
Tipe-Tipe
dari pendekatan belajar kooperatif
A. Tipe
STAD (Student Team Achievement Division)
Pendekatan
belajar kooperatif tipe Student Team
Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan
teman-temannya di Universitas John Hopkin merupakan pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana, dan merupakan pendekatan belajar kooperatif yang cocok
digunakan oleh guru yang baru menggunakan pendekatan belajar kooperatif.
Pendekatan belajar kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai
berikut:
1.)
Presentasi kelas.
2.)
Kerja kelompok.
3.)
Tes.
4.)
Peningkatan skor individu.
5.)
Penghargaan kolompok.
B. Tipe
Think-Pair-Share
Think-Pair-Share
merupakan salah satu tipe pendekatan belajar kooperatif yang dikembangkan oleh
Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir
dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Tahapan pendekatan belajar
kooperatif tipe Think-Pair-Share
adalah sebagai berikut :
1.) Berpikir (Think)
2.) Berpasangan (Pair)
3.) Berbagi (Share)
C. Tipe
Jigsaw
Jigsaw
pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-temannya
di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di
Universitas John Hopkins. Arends (1997) dalam bukunya menyimpulkan dengan
kutipan sebagai berikut.
“tipe
Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa
anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian
materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam
kelompoknya”. Pendekatan belajar kooperatif tipe Jigsaw merupakan model dimana
siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara
heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung
jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan
menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.
D. Tipe
Jigsaw II
1.)
Siswa secara individu maupun kelompok (heterogen) mengkaji bahan ajar.
2.)
Dibentuk kelompok ahli (homogen) untuk diskusi pendalaman materi bahan ajar
yang dibaca.
3.)
Kembali ke kelompok asal (heterogen), siswa menjadi per-tutor terhadap satu sama lain. Terjadi pembentukan pengetahuan
secara berkelompok (social construction
of knowledge)
4.)
Tes/kuis untuk mengukur kemampuan siswa secara individual.
5.)
Diskusi terbuka, sementara guru memberikan penguatan.
E. Tipe
TGT (Teams Games Tournament)
1.)
Dalam identifikasi masalah, siswa dan guru mencoba mengajukan masalah atau
kasus yang berkaitan dengan materi atau konsep yang sudah dipelajari dalam
pertemuan sebelumnya, atau melalui tugas membaca dirumah.
2.)
Masalah dipecahkan bersama dalam kelompok
3.)
Hasil pemecahan masalah disajikan dalam bentuk turnamen, ada kompetisi untuk
penyajian atau pemecahan masalah yang terbaik. Guru dan beberapa siswa berperan
sebagai penilai atau juri.
4.)
Untuk mengukur kemampuan siswa dilakukan kuis.
Pendekatan
belajar kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara
membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan
bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
bahan pelajaran. Unsur-unsur pendekatan belajar kooperatif yaitu saling
ketergantungan positif, interaksi tatap muka, tanggung jawab perseorangan,
komunikasi antar anggota kelompok, evaluasi proses kelompok. Karakteristik
pendekatan belajar kooperatif yaitu siswa harus memiliki tujuan yang sama, rasa
saling menolong, saling bertukar pikiran, saling menghargai, saling membagi
tugas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara kolompok. Keunggulan model
pendekatan belajar kooperatif yaitu: siswa tidak bergantung kepada guru, mampu
mengekplorasikan ide dan gagasannya, saling menerima perbedaan, saling bertukar
pendapat, meningkatkan semangat belajar, siswa menjadi aktif. Kelemahan model
pendekatan belajar kooperatif yaitu: dibutuhkan tenaga yang lebih dari guru
untuk mengatur siswadan menyiapkan materi, dapat terjadi perdebatan kecil,
siswa lebih cenderung bergurau dengan temannya, membutuhkan fasili- tas yang
memadai, terjadi perluasan masalah sehingga waktu terbuang sia-sia, terkadang
diskusi didominasi seseorang saja sehingga siswa lain menjadi pasif.
MATERI 10 : MOTIVASI II ( ARCS )
Model
ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller
dan Kopp. Model motivasi ARCS ini
sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat
mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model ARCS berakar pada
banyak teori dan konsep motivasi, khasnya adalah teori harapan nilai
(expectancy-value). Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai
harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai
(value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil
mencapai tujuan itu.
ARCS sendiri adalah akronim dari bentuk sikap siswa yakni attention
(perhatian), relevance (relevansi), confidence (percaya diri),
dan satisfaction (kepuasan). Model pembelajaran ARCS adalah suatu
bentuk pembelajaran yang mengutamakan perhatian siswa, menyesuaikan materi
pembelajaran dengan pengalaman belajar siswa, menciptakan rasa percaya diri
dalam diri siswa, dan menimbulkan rasa puas dalam diri siswa tersebut. Model
pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori dan
pengalaman nyata intsruktur sehinga mampu membangkitkan semangat belajar siswa
secara optimal dengan memotivasi diri siswa sehingga didapatkan hasil belajar
yang optimal.
Langkah-Langkah
untuk Menerapkan Model Motivasi ARCS :
·
Langkah 1 : obtain
course information/ memperoleh informasi kursus
Langkah ini dilakukan untuk memilih dan
mengembangkan taktik motivasi yang sesuai dalam pembelajaran. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam langkah ini adalah karakteristik peserta didik, tujuan
yang ingin dicapai, serta kesesuaian waktu dan biaya. Untuk menghindari efek
yang kontraproduktif dari pengaruh di atas maka perlu untuk mengumpulkan
informasi tentang tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan.
·
Langkah 2 : obtain
audience information/ memperoleh informasi pembelajar
Langkah ini berfokus pada beberapa
faktor yang memiliki pengaruh kuat pada motivasi awal pembelajar dan bagaimana
mereka akan menanggapi isi dan strategi pembelajaran yang akan diterapkan,
misalnya karakterisr=tik pembelajar, sejauh mana kesamaan dan perbedaan
kemampuan akademik mereka, memilih metode dengan menugaskan pembelajar untuk
membantu mengantisipasi entry-level motivasi peserta didik.
·
Langkah 3 : analyze
audience/ menganalisis pembelajar
Analisi pembelajar merupakan langkah
penting dalam proses mendesignmodel ARCS. Keputusan yang diambil akan memiliki
pengaruh langsung dalam mendefinisikan tujuan dan memilih strategi motivasi
dalam pembelajran. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memperkirakan strategi
motivasi apa yang cocok untuk seluruh kelas atau sub-kelompok atau individu
dalam kelas.
·
Langkah 4 : analyze
existing materials/ manganalisis bahan yang ada
Tujuan dari langkah ini adalah untuk
menganalisis materi pembelajaran saat ini, yang bisa menjadi sebuah unit,
modul, prgram pembelajaran, atau apapun segmen intruksi yang ditujukan untuk
mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan strategi motivasi.
·
Langkah 5 : list
objective and assesment/ daftar tujuan motivasi dan penilaian
Langkah ini dilakukan untuk menulis
tujuan design motivasi dan penilaian. Dalam tujuan akan digambarkan perilaku
motivasi yang ingin diamati dlaam pembelajar.
·
Langkah 6 : list
potential tactics/ daftar stertegi potensial
Langkah ini dibutuhkan kemampuan
pembelajar untuk menganalisis melalui diskusi /brainstorming., bukan hanya yang
berhubungan dengan tujuan pada langkah 5, tetapi juga termasuk strategi yanga kan membantu mempertahankan motivasi
pembelajar pada kegianatan pembelajaran.
·
Langkah 7 : select and
desig tactics/ memilih dan mendesain strategi
Dalam langkah ini pembelajar akan
memilih strategi motivasi untuk benar-benar dimasukkan ke dalam bahan ajar.
·
Langkah 8 : integrate
with instructional design overview/ mengintegrasikan strategi motivasi dengan
design pembelajaran.
Langkah ini dilakukan untuk
mengintegrasikan startegi motivasi yang sudah dirancang ka dalam unsur-unsur
utama pengajaran, yang meliputi tujuan pembelajaran, isi, dan kegiatan belajar.
·
Langkah 9 : select and
develop materials/ memilih dan mengembangkan bahan.
Dalam langkah ini, akan dilakukan
identifikasi jenis strategi motivasi yang akan dimasukkan ke dalam bahan
pembelajaran.
·
Langkah 10 : dalam
merancang desain pembelajaran formal
.
Langkah ini bagian dari proses yang
tujuannya untuk mengevaluasi materi seberapa baik strategi motivasional yang
dilakukan memiliki pengaruh terhadap pembelajar.
Kesulitan
yang dihadapi dalam menerapkan model ARCS di tempat kerja yaitu :
1. Penilaian
perilaku peserta didik sulit dinilai secara kuantitatif
2. Model
ARCS ditujukan bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini akan
membutuhkan waktu tersendiri untuk menilai prestasi belajar siswa dari segi
pengetahuannya, jika bisa dilakukan secara beriringan akan sulit karena
membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi dalam menilai prestasi belajar dalam
menstabilkan kondisi pembelajaran tetap berada dalam situasi yang diinginkan.
3. Akan
sangat sulit menemukan dan menentukan startegi motivasi yang tepat
diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran jika motivasi individu dari
setiap peserta didik sangat bervariasi.

Komentar
Posting Komentar