Aku dan
Matematika
(#2)
Teeet…Teeeet….
Terdengar bunyi klakson dari depan rumahku
pada pagi hari itu.
Pagi ini sinar matahari membanjiri bumi dan
udara seakan menusuk tulangku. Aku bergegas memakai seragam dan sweater ku
sambil terburu-buru memakai sepatu. Dengan motor matic warna biru dan velg nya
yang berwarna kuning , Aldi temanku yang selalu saja satu kelas denganku dari
kelas X sampai dengan kelas XII . Sudah kebiasaan memang , aku selalu dijemput
olehnya jika dia tidak secara kebetulan berpapasan dengan wanita cantik di
pinggir jalan yang sedang menunggu angkot untuk berangkat sekolah juga . Aku
dirumah hanya menunggu dan berdoa semoga saja dia tidak membonceng orang lain
sebelum dia melewati rumahku .
“ oy Con , percepat dong , ngaret ah ! “ terdengar
suara Bemo yang begitu nyaring keluar dari mulutnya . Oy ya , Bemo sebenarnya
nama pangiilan , nama sebenarnya adalah Aldi . Aku tidak akan menjabarkan
secara jelas mengapa dia disebut Bemo . Tapi kalian bisa berspekualsi sendiri
kan . Hehehe…
Dia duduk menuggu di motor matic nya yang
terlihat cocok menurutku , karena tubuhnya yang agak mungil sedang menaiki
motor kesayangannya . Sambil menuggu dia sesekali melirik ke jalanan mengamati
wanita cantik yang hendak berangkat sekolah juga . Menurutku memang pantas sih
dia begitu , karena perawakannya yang selalu bisa dibilang cool dengan mode
pakaian yang terkini , sehingga wajar saja jika dia merasa percaya diri untuk
memikat hati wanita . Berbeda sekali denganku yang selalu berpakaian ala
kadarnya dan selalu mentaati peraturan sekolah , dan tidak popular di mata
siapa pun .
“ Bem , jangan kencang – kencang , udara
dingin , dan banyak motor juga , bahaya . “ kata aku kepada Aldi .
“ Ah manja lu Con , kaya Cwe ! “ ujar Aldi .
Ya bahasa dia memang seperti itu karena dia memang “ Anak Nongkrong Dago “.
Tidak sampai 5 menit , kami tiba di sekolah
dan aku langsung masuk kelas dan menghampiri tempat dudukku yang berada di
pojok depan paling kiri . Menurutku tempat duduk tersebut sangat strategis
karena aku bisa memandang seluruh siswa yang ada dikelas dan juga bisa
bersandar ke tembok saat aku sedang bermalas-malasan . Tapi hanya ada satu
kekurangannya , yaitu tempat duduk tersebut terlalu dekat dengan meja guru .
Kalian yang pernah merasakan ujian dan diawas oleh guru killer pasti tahu
musibah yang terjadi jika duduk di depan yang sangat dekat dengan meja guru .
Meskipun sebenarnya apapun yang terjadi dan dimana pun kalian duduk , jika
kalian sudah belajar dengan baik maka tidak masalah kalian duduk dimana saja .
Tapi disini aku hanya menyampaikan perasaan pribadiku saja .
Aku duduk dan menuggu jam pelajaran pertama
dimulai , saat itu aku mengamati teman – temanku ada yang sedang membersihkan
kelas dan ada juga yang sedang sarapan pagi dengan lahapnya . Tapi ada yang
membuatku heran , ada sekurumunan siswa sedang berkumpul di belakang kelas .
Dan keruumunan itu mengililingi bangku Susanti .Susanti adalah salah satu murid
pintar dan sangat rajin di kelas . Karena itu aku merasa ada hal yang buruk
saat aku melihat kerumunan itu . Dan setelah aku lihat ternyata benar !!!
Musibah datang disaat hari masih pagi .
“ itu PR yang kemarin ya ? “ Tanya aku pada
mereka .
“ iya , kamu sudah belum liat dong jangan
pelit gitu , bagi – bagi kalau punya ilmu “ kata salah seorang dari mereka .
“ ah boro – boro , aku aja baru ingat barusan
, banyak ngga PR nya “
Aku lihat buku catatan mereka dan ternyata
banyak sekali PR dan ditambah lagi mereka belum menyelesaikan semuanya ,
sedangkan jam pelajaran pertama sudah akan dimulai . Aku berpikir bahwa jika
aku menulis dan menyalinnya sekarang juga percua tidak akan selesai tepat waktu
, tapi jika tidak dikerjakan sama sekali dampaknya akan sangat lebih bahaya .
Aku duduk kembali ke mejaku dan menunggu
teman sebangku ku yang jago akan MTK yaitu Zaki . Aku tidak menyalin terlebih
dahulu karena aku menunggu teman yang sependeritaan denganku . Dan ya ,
akhirnya benar juga , saat Zaki datang dia belum menyelasaikan PR itu dan malah
dia sama sekali tidak ingat bahwa ada PR . Aku pun bertanya padanya apa yang
harus aku lakukan .
“ zak , gimana nih , PR belum “
“ tenang aja , palingan nanti PR nya
dikerjakan kedepan , ngga bakal diperiksa “
Aku merasa bingung dengan pikiran Zaki saat
itu , anggapanku mungkin dia bisa mengerjakan PR tersebut tanpa harus
menulisnya di buku . Namun aku tidak setenang dia dan sepintar dia .
Sampai bel berbunyi , kami masih asyik
mengobrol tanpa ada usaha dan kerja keras untuk mengerjakan PR , bahkan
menyalin saja rasanya sudah malas jika sudah di akhir waktu begini . Akhirnya
Pak Yudi datang , dan tidak disangka-sangka beliau langsung memeriksa buku PR
Matematika dari ujung sebelah kanan paling depan urutan meja kelas yang saat
itu kebetulan diduduki oleh Susanti . AKu melihat Pak Yudi memeriksa PR nya ,
dan sedikit member nasehat atau sedikit mengomentari hasil pekerjaan Susanti .
Aku yang duduk disebelah pojok paling kiri pun sudah merasa tidak karuan dan
cemas . Sedangkan Zaki masih tetap
tenang dengan pendapatnya bahwa buku PR tidak akan diperiksa . Pak Yudi sudah
sampai di sebelah meja didekat meja kami , dan barulah Zaki merasa cemas juga .
Akhirnya Pak Yudi sampai di meja kami dan
memeriksa Pr kami .
“ Mana PR kalian , coba keluarkan ! “ seru
Pak Yudi.
“ Belum mengerjakan Pak , saya lupa “ ucap
Zaki .
“ Mana bisa lupa , padahal Bapak baru kemarin
lusa menyuruh ! “ sedikit agak kesal Pak Yudi membentak Zaki.
Pak Yudi biasanya bersikap baik dengan
sedikit candaan tapi serius di setiap pembelajarannya , akan tatapi pada pagi
itu entah kenapa beliau terlihat sangat tergesa-gesa dan tidak biasanya juga
memeriksa tugas yang beliau kerjaan secara satu persatu . Biasanya beliau hanya
memberikan kuis di akhir pembelajaran sebagai bahan evaluasi dari hasil belajar
saat itu .
“ Coba kamu , jangan bilang kamu juga belum “
Tanya Pak Yudi .
“ Iyah pak saya juga belum mengerjakan , saya
minta maaf Pak “
“ kalian ini sama saja ya , padahal tugasnya
ada di buku dan cara pengerjaannya sudah bapak kasih tau “
“ tapi pak , kami ngga beli buku pak , jadi
ngga tau soalnya apa aja “ Zaki berusaha membuat alibi .
“ ah alasan saja , kalian sudah SMA pasti
tau bagaimana caranya kalau ngga punya buku harus apa , kalian itu hanya malas
dan tidak mau berusaha , bapak tau itu ! “ nada Pak Yudi sedikit agak meninggi
.
Setelah semua siswa diperiksa oleh Pak Yudi ,
ternyata bukan hanya kami berdua yang tidak mengerjakan PR , ternyata dua orang
siswa laki – laki di belakang kami juga tidak mengerjakan PR dengan alasan yang
sama . Yang kebetulan dua orang itu merupakan anggota dari ekstakurikuler
theater yang ada di sekolah kami dan mereka berdua bisa dibilang sangat
aktif dan berprestasi baik dalam eskul
tersebut . Kami berdua tertawa melihat mereka dan kami pun sedikit merasa tidak
malu karena bukan hanya kami berdua yang tidak mengerjakan PR dari Pak Yudi .
“ kenapa kalian tertawa , bukannya mikir
malah cengengesan , kalian sama aja!”
Dua orang dibelakang juga ikut menertawakan
kami juga dan akhirnya Pak Yudi benar – benar marah .
“ Kamu , Zaki keluar dari kelas , kalian juga
bertiga , keluar dari kelas ! “ Pak Yudi saat itu sangat marah dan tidak
biasanya bersikap seperti itu .
“ dengar Bapak baik – baik , Bapak tidak
butuh orang pintar di kelas ini , tapi Bapak hanya butuh orang yang taat aturan
, aturan itu ada untuk ditaati bukan dilanggar seperti anak-anak ini !”
“ Lupa atau sibuk dengan kegiatan bukan
alasan untuk tidak mengerjakan kewajiban kalian , kewaiban kalian itu belajar ,
kalian kesini buat belajar , ingat itu !” Pak Yudi sedikit memberikan
peringatan kepada siswa – siswa laiinya .
Kami berempat pun akhirnya keluar kelas dan
tidak diizinkan masuk sebelum jam pelajaran matematika berakhir . Aku sangat
menyesal karena tidak mengerjakan PR dan parahnya lagi aku melihat ketiga orang
temanku yang juga dikeluaran sepertinya merasa tenang-tenang saja seperti tidak
merasa bersalah. Kami pun ditanya oleh beberapa guru yang lewat kenapa keluar
duluan .
“ lho kalian kenapa diluar , bukannya masih
belajar ya ? “ Tanya seorang guru .
“ oh iya bu , didalam lagi ada kuis bu , yang
bisa menjawab boleh keluar duluan bu , jadi kami ada diluar karena bisa
menjawab kuis itu Bu “ Zaki beralasan.
“ oh gitu ya , hebat ya kalian , di pelajaran
ibu juga kalian harus begitu ya “ kata guru tersebut .
“ siap Bu !” seru mereka bertiga .
Aku hanya diam melihat mereka ,entah apa yang
ada dipikiran mereka karena bisa setenang itu dan masih bisa becanda disaat
situasi yang kuanggap sangat mencekam .
Jam pelajaran pun telah usai dan ada banyak
siswa laki –laki yang keluar yang biasanya kan pergi ke toilet atau pergi ke
kantin untuk jajan meskipun saat itu masih sedang jam pelajaran .
“ oy , kalian tadi kenapa keluar , ada kuis
bukan dari Pak Yudi atau ada ujian ? “ Tanya seorang siswa dengan polosnya dan
dia mengharapkan kami akan membocorkan soal kuisnya jika memang ternyata ada
kuis .
“ iya tadi ada kuis , dan kami keluar lebih
dulu , tapi soalnya berbeda kata Pak Yudi “ ucap Zaki .
Aku pun masuk ke kelas dengan perasaaan tidak
karuan dan banyak dari teman-teman kami dikelas yang menyindir kami berempat.
Pelajaran yang bisa diambil mungkin benar apa
yang Pak Yudi katakan , bahwa orang yang taat aturan lebih dbutuhkan dan
dihargai daripada orang pintar yang bertindak seenaknya . Mulai saaat itu aku
tidak pernah melupakan kejadian yang sangat memalukan itu , hingga saat acara
graduasi pun , aku masih memikirkan hal tersebut . Ditambah lagi Pak Yudi
merupakan wali kelas kami , wali kelas dari kelas XII Ipa 1 . Tapi berkat
ajaran Pak Yudi kami menjadi pribadi yang lebih baik saat itu . Terima Kasih Pa
Yudi.
.
.
.
Created by : Irsan Sumarna
---------------------------------------------------end----------------------------------------------
Komentar
Posting Komentar