SEMINAR PROPOSAL

PENGEMBANGAN MODUL ELEKTROKIMIA
BERBASIS KONTEKSTUAL TERINTEGRASI KURIKULUM SMK
 PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK OTOMOTIF

Disusun sebagai salah satu prasyarat lulus dalam mata kuliah
Seminar Pra Skripsi


logo UNJ buildFutureLeader.JPG


Oleh :
Irsan Sumarna
3315140662

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal skripsi. Proposal skripsi ini disusun sebagai salah satu prasyarat lulus dalam mata kuliah Seminar Pra Skripsi.
Proposal skripsi ini dapat terselesaikan bukan karena kemampuan penulis semata, namun karena adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1.     Prof. Dr. Erdawati, M.Sc selaku dosen pembimbing I yang membimbing dan memberikan arahan kepada penulis
2.     Ella Fitriani, M.Pd selaku dosen pembimbing II yang membimbing dan memberikan arahan kepada penulis
3.     Dr. Maria Paristiowati, M.Si, selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar Pra Skripsi yang juga memberikan saran kepada penulis
Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan memberikan sumbangan ilmiah bagi penulis maupun pembaca.



Jakarta , 08 Desember 2017
Penulis

Irsan Sumarna

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. iv  
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A.   Latar Belakang ......................................................................................... 1
B.   Identifikasi Masalah ................................................................................ 3
C.   Pembatasan Masalah ............................................................................. 6
D.   Rumusan Masalah .................................................................................. 6
E.   Tujuan Penelitian .................................................................................... 6
F.    Manfaat Penelitian .................................................................................. 6
BAB II KAJIAN TEORI ......................................................................................... 8
A.   Struktur Kurikulum SMK ........................................................................ 8
B.   Pembelajaran Kimia di SMK ................................................................ 10
C.   Konten Kimia dalam Mata Pelajaran Kejuruan Teknik Otomotif ... 11
D.   Pengembangan Bahan Ajar Kimia berbasis Kontekstual ............. 12
E.   Modul Pembelajaran ............................................................................. 14
F.    Materi Elektrokimia ................................................................................ 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................. 24
A.   Tujuan Penelitian .................................................................................. 24
B.   Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 24
C.   Desain Pengembangan ....................................................................... 25
D.   Prosedur Pengembangan ................................................................... 29
E.   Desain Uji Coba Produk ...................................................................... 32
F.    Subjek Uji Coba ..................................................................................... 33
G.   Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 33
H.   Instrumen Penelitian ............................................................................ 33




I.      Teknik Analisis Data ............................................................................. 35
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 36
LAMPIRAN ......................................................................................................... 39





















DAFTAR TABEL

 

Tabel 1. Jadwal Penelitian Pengembangan Modul Elektrokimia ............. 25
Tabel 2. Bobot Nilai Pernyataan Positif dan Negatif ................................... 34
Tabel 3. Kriteria Interpretasi Skor untuk Rating Scale ................................ 35



























DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Komponen Sistem Pembelajaran Dick and Carey................... 28
Gambar 2. Prosedur Pengembangan Modul
.................... (adaptasi dari Dick&Carey).......................................................... 31























BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan yang membekali peserta didiknya tidak hanya dengan pengetahuan tetapi juga keterampilan atau life skill sebagai bekal hidup agar bisa bersaing dalam dunia kerja. Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 pasal 26 ayat 3 tentang Standar Nasional Pendidikan Indonesia dicantumkan bahwa tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Selain itu dalam PP pada pasal 1 ayat 4 tercantum Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Kimia merupakan mata pelajaran substansi pengikat untuk dasar bidang kejuruan SMK/MAK kelompok Teknologi Rekayasa (Permendikbud, 2013). Tujuan dari mata pelajaran kimia yang diberikan di SMK adalah agar peserta didik dapat menerapkan metode ilmiah melalui percobaan dan menggunakan pengetahuan dasar kimia dalam kehidupan sehari-hari. Kimia merupakan mata pelajaran adaptif yang didapatkan oleh setiap bidang keahlian. Akan tetapi, tidak tersedianya bahan ajar kimia yang berhubungan dengan bidang keahlian masing-masing menyebabkan pemberian materi kimia untuk SMK sama dengan materi kimia untuk SMA. Dengan kata lain pembelajaran kimia di SMK tidak diberikan secara kontekstual dan terintegrasi dengan bidang keahlian. Umumnya para guru SMK memberikan materi kimia hanya dalam bentuk konsep dasar ilmu kimia secara teoritis saja. Konsep dasar ilmu kimia tersebut diberikan secara terpisah tanpa adanya keterkaitan dengan materi bidang keahlian, sehingga peserta didik beranggapan bahwa materi kimia tidak terintregasi dengan materi pelajaran bidang keahlian mereka. Dikarenakan penyampaian materi kimia yang tidak kontekstual menyebabkan peserta didik beranggapan bahwa pelajaran kimia kurang menarik dan tidak penting. Adapun karakter peserta didik yang umumnya kurang menyukai mata pelajaran yang bersifat teoritis dikarenakan orientasi mereka setelah lulus adalah untuk mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahlian mereka, hal ini memperbesar kecenderungan peserta didik untuk mengabaikan pelajaran kimia.
Menurut Faizah (2011), kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran kimia cenderung tidak berhubungan langsung dengan kompetensi mereka dalam mata pelajaran produktif. Salah satu sumber permasalahannya adalah tidak tersedianya bahan ajar kimia yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran produktif (Faizah, 2011). Selain itu, sekolah juga belum mengembangkan silabus sesuai dengan kebutuhannya sehingga dalam pelaksanaanya masih membutuhkan perbaikan-perbaikan yang disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan sekolah itu sendiri (Asliyani, M.Rusdi, & Asrial, 2014).
Selama ini pembelajaran kimia yang diberikan di SMK lebih terfokus pada menghafal fakta, prinsip, dan teori. Berdasarkan wawancara terhadap guru kimia di SMKN 5 Jakarta, peserta didik mempelajari kimia hanya terbatas pada materi yang disampaikan oleh guru dan cenderung tidak ada rasa ingin tahu yang lebih dalam lagi untuk mempelajari ilmu kimia. Selain itu, peserta didik juga mengalami kesulitan dalam pembelajaran kimia karena dituntut untuk menghafal pembendaharaan kata yang baru, konsep kimia, dan rumus-rumus dalam hitungan. Hal tersebut mengakibatkan minat ataupun motivasi belajar peserta didik SMK terhadap materi kimia menjadi rendah. Rendahnya minat belajar peserta didik dapat dilihat pada saat pembelajaran berlangsung seperti, ada peserta didik yang tidak memperhatikan guru, bersenda gurau di dalam kelas bahkan ada yang sampai tertidur di dalam kelas.
Selain dari kondisi pembelajaran kimia, kurangnya minat belajar peserta didik SMK terhadap materi kimia disebabkan ketidaksesuaian sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran. Sumber belajar teserbut merupakan bahan ajar berupa buku teks pelajaran kimia. Bahan ajar merupakan sumber belajar yang penting dalam proses pembelajaran kimia di SMK Kelompok Teknologi Rekayasa. Bahan ajar tersebut dapat berfungsi sebagai pengganti penjelasan guru dalam proses pembelajaran akan tetapi penggunannya tetap dalam pengawasann guru. Jika ditinjau dari sudut keterkaitan antara mata pelaran produktif dengan mata pelajaran kimia, program Teknik Otomotif tidak memiliki keterkaitan secara langsung. Akan tetapi, dalam bidang otomotif kimia berperan besar sebagai konsep dasar terkait aplikasi dan penanganan apabila terjadi permasalahan dalam bidang otomotif. Dengan kata lain, mata pelajaran kimia wajib diberikan untuk peserta didik SMK Teknologi Rekayasa Program Keahlian Teknik Otomotif, salah satunya adalah materi Elektrokimia.
Berdasarkan wawancara dan observasi lapangan di SMKN 5 Jakarta sampai saat ini bahan ajar kimia yang diberikan masih belum tepat. Bahan ajar yang digunakan masih sama dengan bahan ajar yang digunakan oleh peserta didik SMA hanya saja isi materi yang sedikit diringkas. Hasil wawancara dengan guru kimia dan teknik otomotif SMK menyebutkan bahwa peserta didik SMK cenderung lebih tertarik belajar dengan konten materi yang dikaitkan dengan materi program keahlian yang mereka pelajari juga. Peserta didik SMK dituntut secara tidak langsung untuk menguasai hal bersifat praktek daripada teori sehingga bahan ajar yang bersifat kontekstual lebih diminati. Akan tetapi fakta di lapangan menunjukan bahwa pada pembelajaran kimia jarang sekali dilakukan praktikum. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan alokasi waktu pembelajaran maupun kondisi laboratorium kimia yang kurang memungkinkan untuk melakukan praktikum.
Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan di SMK termasuk program keahlian Teknik Otomotif haruslah sesuai dan relevan. Bahan ajar yang sesuai berarti bahan ajar kimia tersebut telah terintegrasi dengan mata pelajaran produktif Teknik Otomotif. Sedangkan bersifat relevan artinya bahan ajar kimia tersebut mampu membuat peserta didik merasa bahwa materi yang dibahas dalam bahan ajar secara personal berdampak langsung pada program yang diambil saat ini di sekolah (Kotkas, Holbrook & Rannikmae, 2016). Bahan ajar kimia ini pula harus disesuaikan dengan karakter SMK yang terdiri dari beragam program. Seperti contoh, materi kimia yang dibutuhkan oleh program Teknik Otomotif akan berbeda dengan program Audio Video maupun program lainnya.
Salah satu materi yang diberikan di SMK kelompok Teknologi Rekayasa Program Keahklian Teknik Otomotif adalah materi elektrokimia. Materi ini didapatkan pada saat kelas X , akan tetapi penggunaan bahan ajar tetap digunakan pada saat peserta didik membutuhkan penjelasan materi elektrokimia di kelas XI atau kela XII. Materi elektrokimia mencakup beberapa submateri seperti, sel volta, korosi, dan elektrolisis. Beberapa sub materi elektrokimia mempunyai relevansi dengan materi progam keahlian Teknik Otomotif yaitu mekanika teknologi dan mata pelajaran pemeliharan mekanik mesin. Mata pelajaran mekanika teknologi mempunyai beberapa bahasan salah satunya electroplating dan dalam mata pelajaran mekanika mesin terdapat materi pencegahan korosi. Kedua materi tersebut membutuhkan dasar ilmu kimia yaitu elektrokimia sebagai pendukung materi yang terdapat dalam bidang keahlian.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terkait elektrokimia, menunjukan bahwa sebagian besar peserta didik menganggap materi elektrokimia sulit dipelajari. Peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami sel elektrokimia dan sel elektrolisis (Lin, Y, Chiu, & Chou, 2002). Elektrokimia dianggap sebagai salah satu konsep kimia yang paling sulit (Obomanu & Onuoha, 2012). Materi ini terdiri dari sel Volta dan sel Elektrolisis merupakan materi yang bersifat abstrak, misalnya pergerakan elektron, terjadinya aliran arus listrik, dan pergerakan ion dalam jembatan garam sehingga untuk mempelajarinya peserta didik memerlukan bekal yang cukup, yaitu kemampuan berpikir formal, kemampuan menggunakan penjelasan secara mikroskopis, makroskopis, dan simbolik (Obomanu & Onuoha, 2012). Garnett dan Treagust (1992) meninvestigasi beberapa peserta didik SMA tentang pemahaman kimia listrik khususnya dalam sel elektrokimia dan sel elektrolit. Sanger dan Greenbowe (1997) meniru studi Garnett dan Treagust (1992) dengan beberapa mahapeserta didik keguruan kimia dan menemukan temuan yang sama dengan para peserta didik SMA yaitu mengalami kesulitan belajar dalam sel galvanik, sel elektrolit dan konsentrasi sel. Selain itu, mereka menekankan kesulitan konseptual itu penting untuk membantu peserta didik memahami topik ini dengan bermakna. Obomanu (2012) juga mengidentifikasi konsep yang sulit menurut peserta didik sekolah menengah di Nigeria dalam elektrolisis melalui inventaris konsep. Hasil dari penelitian tersebut adalah sebanyak 84% dari 248 peserta didik mengalami kesulitan dalam hal materi elektrokimia. Hal ini disebabkan karena kurangnya metode yang digunakan dalam pembelajaran dan juga bahan ajar yang kurang menarik.
Berdasarkan data yang telah dipaparkan di atas, diperlukan bahan ajar yang disusun khusus yang terintegrasi dengan bidang keahlian, sehingga lulusan SMK diharapkan menjadi lulusan yang memliki kompetensi dan wawasan keilmuan yang cukup baik. Maka dari itu diperlukan adanya penelitian dan pengembangan modul kimia sebagai bahan pembelajaran kimia di SMK Kelompok Teknologi Rekayasa dengan konteks yang representatif bagi peserta didik SMKN 5 Jakarta yang sesuai dengan kebutuhan.

B.   Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka dapat dilakukan identifikasi masalah sebagai berikut :
1.    Bahan ajar kimia SMK  program Teknik Otomotif yang digunakan saat ini masih bersifat umum dan tidak sesuai konteks kejuruan Teknik Otomotif, sehingga kurang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
2.    Konten kimia yang dipelajari di SMK masih terlalu luas menyebabkan tujuan pembelajaran kimia belum tercapai secara maksimal sehingga pembelajaran tidak berjalan efektif.
3.    Ketidaksesuaian bahan ajar kimia yang digunakan di SMK program keahlian Teknik Otomotif saat ini menyebabkan minat dan motivasi belajar peserta didik menjadi rendah.
C.   Pembatasan Masalah
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini masih luas. Oleh sebab itu, permasalahan yang ada dibatasi pada “Bagaimana Pengembangan Modul Elektrokimia Berbasis Kontekstual Terintegrasi Kurikulum SMK Program Keahlian Teknik Otomotif di SMKN 5 Jakarta?”.

D.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimanakah karakteristik modul elektrokimia yang dibutuhkan oleh program keahlian Teknik Otomotif ?
2.    Bagaimanakah kelayakan modul elektrokimia untuk program keahlian Teknik Otomotif menurut ahli materi dan ahli media ?
3.    Bagaimanakah kelayakan modul elektrokimia untuk program keahlian Teknik Otomotif menurut respon pengguna ?

E.   Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah disebutkan, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut :
1.    Menghasilkan modul elektrokimia berbasis kontekstual terintegrasi kurikulum SMK program kehalian teknik otomotif.
2.    Menguji kelayakan modul elektrokimia berbasis kontekstual terintegrasi kurikulum SMK program kehalian teknik Otomotif menurut ahli materi dan ahli media.
3.    Menguji kelayakan modul elektrokimia berbasis kontekstual terintegrasi kurikulum SMK program kehalian teknik menurut respon pengguna.




F.    Manfaat Penelitian
Pengembangan modul elektrokimia sebagai media pembelajaran kimia untuk peserta didik SMK program keahlian Teknik Otomotif ini bermanfaat untuk :
1.    Peserta didik
Modul ini diharapkan dapat membantu peserta didik SMK program Teknik Otomotif dalam memahami materi elektrokimia sesuai dengan konteks kejuruan yang dihadapi.
2.    Guru
Modul ini dapat digunakan oleh guru-guru kimia SMK program keahlian Teknik Otomotif sebagai buku pegangan mengajar elektrokimia sehingga proses pembelajaran kimia diharapkan tepat sasaran.
3.    Peneliti
Modul ini bermanfaat untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan peneliti mengenai elektrokimia yang sesuai dengan konteks kejuruan SMK Program Keahlian teknik Otomotif.
















BAB II
KAJIAN TEORI


A.   Struktur Kurikulum SMK
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran. Kurikulum merupakan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pada Permendikbud No.60 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan telah diterangkan kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan. Stuktur kurikulum merupakan pengorganisasian kompetensi inti, kompetensi dasar, muatan pembelajaran, mata pelajaran dan beban belajar pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan.
Berdasarkan Permendikbud No. 60 Tahun 2014, kurikulum SMK/MAK dirancang dengan pandangan bahwa SMA/MA dan SMK/MAK pada dasarnya adalah pendidikan menengah. Pembeda diantara SMA/MA dengan SMK/MAK hanya pada pengakomodasian minat peserta didik saat memasuki pendidikan menengah. Oleh sebab itu, struktur umum mata pelajaran SMK/MAK sama dengan SMA/MA. Ada tiga kelompok mata pelajaran dalam pendidikan menengah yaitu kelompok A, B, dan C. Kelompok A dan B adalah mata pelajaran wajib. Kelompok A terdiri dari penididkan agama dan budi pekerti, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, Matematika, sejarah Indonesia, dan bahasa Inggris. Kelompok B terdiri dari seni budaya , pendidikan jasmani olahrga dan kesehatan, serta prakarya dan kewirausahaan. Kelompok C adalah mata pelajaran yang berisi mata pelajaran peminatan akademik (SMK/MAK).
SMK yang ada di Indonesia memiliki 9 bidang keahlian sesuai dengan struktur kurikulum SMK/MAK yang terncatum dalam Permendikbud No. 60 tahun 2014. Sembilan bidang keahlian tersebut meliputi :
1.    Teknologi dan Rekayasa
2.    Kesehatan
3.    Agribisnis dan Agroteknologi
4.    Perikanan dan Kelautan
5.    Pariwisata
6.    Bisnis dan Manajemen
7.    Seni Rupa dan Kriya
8.    Seni pertunjukan
9.    Teknologi Informasi dan Komunkasi
Kimia menurut Permendikbud No. 60 tahun 2014 adalah salah satu bagian dari mata pelajaran peminatan golongan C1 di SMK. Akan tetapi, tidak semua bidang keahlian di SMK mempelajari kimia. Mata pelajaran kimia hanya ada pada bidang-bidang tertentu dari 9 bidang keahlian tersebut. Bidang keahlian yang mempelajari kimia meliputi teknologi dan rekayasa, kesehatan, perikanan dan kelautan serta agribisnis dan agroteknologi.
            Pada bidang keahlian teknologi dan rekayasa, salah satu progam yang mempelajari kimia adalah program Teknik Otomotif. Program Teknik Otomotif terdiri dari empat paket keahlian yang meliputi teknik kendaraan ringan, teknik sepeda motor, teknik perbaikan bodi otomotif dan teknik alat berat. Semua paket keahlian tersebut mempelajari kimia sebagai mata pelajaran peminatan. Berdasarkan pada Permendikbud No. 60 tahun 2014, telah disebutkan bahwa mata pelajaran kimia dipelajari pada Program Teknik Otomotif pada kelas X dengan jumlah jam pelajaran sebanyak 3 jam per minggu.



B.   Pembelajaran Kimia di SMK
            Definisi SMK menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bidang tertentu tersebut diwujudkan dalam bentuk bidang keahlian. Oleh sebab itu, prinsip pembelajaran di SMK adalah mengajarkan materi pembelajaran sesuai dengan bidang yang ditekuni. Masing – masing bidang keahlian memiliki beberapa program yang membawahi beberapa paket keahlian, sehingga pembelajaran dalam setiap bidang keahlian juga difokuskan pada program yang diambil.
            Tujuan diberikannya mata pelajaran kimia di SMK adalah sebagai mata pelajaran peminatan untuk mendukung mata pelajaran dasar kejuruan. Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia dapat digunakan sebagai bekal ilmu bagi peserta didik SMK dalam mengasah kompetensi keahlian yang dipelajari sehingga mampu mengaplikasikannya dengan baik.
            Berdasarkan Permendikbud No. 21 tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah, ruang lingkup pembelajaran kimia di SMK untuk program Teknik Otomotif adalah sebagai berikut :
1.    Materi dan Perubahannya.
2.    Struktur Atom, Sistem Periodik dan Ikatan Kimia.
3.    Bentuk Molekul.
4.    Larutan elektrolit dan larutan non elektrolit.
5.    Reaksi Oksidasi Reduksi dan Bilangan Oksidasi.
6.    Tatanama senyawa anorganik dan organik sederhana.
7.    Stoikiometri.
8.    Hidrokarbon dan Minyak Bumi.
9.    Termokimia.
10. Laju Reaksi.
11. Kesetimbangan Kimia.
12. Sifat Larutan Asam Basa dan pH larutan.
13. Hidrolisis.
14. Larutan Penyangga.
15. Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan (ksp).
16. Sistem Koloid.
17. Sifat Koligatif Larutan.
18. Redoks dan Elektrokimia.
19. Senyawa Karbon (haloalkana, alkanol, alkoksi, alkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat dan alkil alkanoat).
20. Benzena dan turunannya.
21. Makromolekul (polimer, karbohidrat dan protein).
22. Metode pemisahan dan pengukuran.
23. Penentuan kadar suatu senyawa.

C.   Konten Kimia dalam Mata Pelajaran Kejuruan Teknik Otomotif
Program Teknik Otomotif terdiri dari empat paket keahlian yaitu teknik kendaraan ringan, teknik sepeda motor, teknik perbaikan bodi otomotif dan teknik alat berat. Berikut ini adalah hasil analisis KD pada Teknik Otomotif yang dapat dikaitkan dengan KD kimia SMK sesuai dengan Permendikbud No. 60 Tahun 2014 tentang kurikulum 2013 SMK/MAK. Hasil  analisis difokuskan pada materi elektrokimia.
1.    KD Teknik Otomotif
  1. Menerangkan fungsi dan konstruksi baterai.
  2. Menjelaskan cara pengelasan CO2 dan las elektroda manual.
  3. Menjelaskan cara menghilangkan korosi hingga siap pengecatan dasar.
  4. Menjelaskan pemeliharaan mesin dan peralatan otomotif.
  5. Menjelaskan pengkilapan secara manual dan menggunakan mesin sesuai SOP.
2.    KD kimia SMK materi elektrokimia (terdapat pada kelas X)
  1. KD 3.8
Mengevaluasi proses yang terjadi dalam sel elektrokimia (menghitung Eo sel, reaksi pada sel volta dan elektrolisa, proses pelapisan logam) yang digunakan dalam kehidupan.

  1. KD 4.8
Mengintegrasikan antara hasil perhitungan Eo sel dengan proses yang terjadi dalam sel elektrokimia (menghitung Eo sel, reaksi pada sel volta dan sel elektrolisa, proses pelapisan logam) reaksi yang digunakan dalam kehidupan.
3.    Konten kimia yang sesuai dengan kompetensi dasar pada Teknik Otomotif
  1. Hakikat Elektrokimia.
  2. Definisi sel Volta.
  3. Klasifikasi sel Volta.
  4. Sifat larutan elektrolit.
  5. Pengukuran potensial sel.
  6. Fungsi larutan elektrolit dalam baterai.
  7. Diagram sel Volta dan komponen-komponennya.
  8. Reaksi dan sistem kerja pada baterai.
  9. Penentuan potensial pada baterai.
  10. Proses korosi.
  11. Faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi.
  12. Dampak korosi pada komponen mesin dan peralatan otomotif.
  13. Cara mencegah terjadinya korosi pada komponen mesin dan peralatan otomotif.
  14. Definisi sel elektrolisis.
  15. Diagram sel elektrolisis.
  16. Reaksi yang terjadi pada elektrolisis.
  17. Penyepuhan logam pada komponen kendaraan.
  18. Elektroplating.

D.   Pengembangan Bahan Ajar Kimia berbasis Kontekstual
Pengertian bahan ajar menurut Arsyad (2004), adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanan kegiatan pembelajaran di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis. Prastowo (2015) mengemukakan bahan ajar memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut :
1.    Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
2.    Sebagai pedoman guru dalam mengarahkan aktivitas selama pembelajaran.
3.    Sebagai kumpulan kompetensi yang harus diajarkan kepada peserta didik.
4.    Sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.
5.    Sebagai sumber belajara bagi peserta didik dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan.
6.    Membantu peserta didik dalam belajar tanpa harus ada keterlibatan guru (belajar mandiri).
Pendapat lain tentang bahan ajar juga dikemukakan oleh Majid (2007), yang menyatakan bahwa suatu bahan ajar memiliki ciri-ciri diantaranya : 
1.    Petunjuk belajar.
2.    Kompetensi yang akan dicapai.
3.    Informasi pendukung.
4.    Latihan-latihan soal.
5.    Petunjuk kerja berupa lembar kerja peserta didik (LKPD).
6.    Evaluasi.
Pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat (Sagala,2003). Dengan pembelajaran kontekstual materi yang disajikan oleh guru menjadi lebih bermakna, peserta didik akan aktif membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Faraday, Overton dan Cooper (2011), dapat disimpulkan bahwa pembelajaran di SMK pada dasarnya tidak berbeda dengan pendidikan yang lain, kecuali dalam aspek konteks. Konteks artinya integrasi antara sifat dasar dari suatu subjek (mata pelajaran tertentu) dengan subjek kejuruan. Maka dari itu, bahan ajar kimia yang sesuai untuk peserta didik SMK adalah bahan ajar yang terintegrasi dengan konteks kejuruan.
Terkait dengan pengembangan bahan ajar kimia, telah dilakukan penelitian sebelumnya tentang pengujian kelayakan Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) berorientasi pendekatan kontekstual materi laju kimia. Penelitian tesebut telah dilakukan oleh Arifin dan Nasrudin (2014), dengan hasil bahwa bahan ajar kimia berbasis kontekstual layak digunakan karena dapat meningkatkan keahlian berpikir kritis peserta didik. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat diperoleh informasi bahwa pengembangan bahan ajar kimia berbasis konteks cukup memberikan hasil positif bagi pembelajaran.

E.   Modul Pembelajaran
  1. Pengertian Modul Pembelajaran
      Walter Dick dan Lou Cary (1985) mengemukakan pengertian modul ditinjau dari wujud fisik berupa bahan pembelajaran cetak. Fungsinya sebagai media belajar mandiri, dan isinya berupa satu unit materi pembelajaran. Modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, materi, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri, kebahasaannya dibuat sederana sesuai dengan tingkat berpikir peserta didik.
Menurut Mulyasa (2006) modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Menurut Purwanto (2007) modul ialah bahan ajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan untuk dipelajari secara madiri dalam satuan waktu tertentu.
Menurut Winkel (2009) modul pembelajaran merupakan satuan program belajar mengajar terkecil, yang dipelajari oleh peserta didik sendiri secara perseorangan atau diajarkan oleh peserta didik kepada dirinya sendiri. Sedangkan menurut Anwar (2010) modul pembelajaran adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
Berdasarkan beberapa pengertian modul yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran merupakan salah satu bahan ajar yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu yang dapat dipelajari secara mandiri oleh dalam satuan waktu tertentu agar peserta didik mampu mencapai komptensi tertentu.
  1. Kriteria Modul yang Baik
Menurut Prastowo (2014) sebuah modul bisa dikatakan baik dan menarik sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar pembacanya apabila terdapat karakteristik sebagai berikut:
a.    Self Instructional
Self Instructional yaitu melalui modul tersebut seseorang atau peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instructional, maka dalam modul harus :
1)    Berisi tujuan yang dirumuskan dengan jelas.
2)    Berisi materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit kecil atau spesifik sehingga memudahkan belajar secara tuntas.
3)    Menyediakan contoh ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran.
4)    Menampilkan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan pengguna memberikan respon dan mengukur tingkat penguasaannya.
5)    Kontekstual yaitu materi-materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks tugas dan lingkungan penggunanya.
6)    Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif.
7)    Terdapat instrumen penilaian/assessment yang memungkinkan penggunaan modul melakukan self assessment.
8)    Terdapat instrumen yang dapat digunakan penggunanya untuk mengukur atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi.
9)    Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
10) Terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya mengetahui tingkat penguasaan materi.
11) Tersedia informasi tentang rujukan atau referensi yang mendukung materi pembelajaran yang dimaksud.
b.    Self Contained
Self Contained yaitu seluruh materi pembelajaran dari suatu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan pembelajar mempelajari materi pembelajaran yang tuntas, karena materi dikemas ke dalam suatu satu kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu unit kompetensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan kompetensi yang harus dikuasai.
c.    Stand Alone
Stand Alone yaitu modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media pembelajaran lain. Saat menggunakan modul, pembelajar tidak tergantung dan tidak harus menggunakan media yang lain untuk mempelajari atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika masih menggunakan dan bergantung pada media lain selain modul yang digunakan, maka media tersebut tidak dikategorikan sebagai media yang berdiri sendiri.
d.    Adaptif
Modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologhi. Modul dapat dikatakan adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel digunakan. Modul yang adaptif adalah jika isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.
e.    User Friendly
Modul hendaknya bersahabat dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta menggunakan istilah yang umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

  1. Komponen-komponen Modul
Menurut Sungkono (2009) komponen-komponen utama yang perlu tersedia didalam modul yaitu :
a.    Tinjauan Mata Pelajar
Tinjauan mata pelajaran berupa paaran umum mengenai keseluruhan pokok-pokok isi mata pelajaran yang mencakup :
1)    Deskripsi isi mata pelajaran
2)    Kegunaan mata pelajaran
3)    Kompetensi dasar
4)    Bahan pendukung lainnya (kaset,kit, dan lain-lain)
b.    Petunjuk Belajar
Petunjuk memuat antara lain penjelasan tentang berbagai macam kegiatan yang harus dilakukan, alat-alat yang perlu disediakan, dan prosedur yang dilakukan.
c.    Pendahuluan
Pendahuluan suatu modul merupakan pembukaan pembelajaran suatu modul. Oleh karena itu, dalam pendahuluan selayaknya memuat hal-hal sebagai berikut :
1)    Cakupan isi modul dalam bentuk deskripsi singkat.
2)    Indikator yang ingin dicapai melalui sajian materi dan kegiatan modul.
3)    Deskripsi perilaku awal (entry behavior) yang memuat pengetahuan dan keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh atau selayaknya sudah dimiliki sebagai pijakan (anchoring) dari pembahasan modul itu.
4)    Relevansi, terdiri atas :
a)    Keterkaitan pembahasan materi dan kegiatan dalam modul itu dengan materi dan kegiatan dalam modul lain dalam satu mata pelajaran atau dalam mata pelajaran (cross reference).
b)    Pentingnya mempelajari materi modul itu dalam pengembangan dan pelaksanaan tugas guru professional.
5)    Urutan butir sajian modul (kegiatan belajar) secara logis.
6)    Petunjuk belajar berisi panduan teknis mempelajari modul itu agar berhasil dikuasai dengan baik.
d.    Kegiatan Belajar
Bagian ini memuat materi pelajaran yang harus dikuasai peserta didik. Materi tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga dengan mempeljari materi tersebut, tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai. Agar materi pelajaran mudah diterima peserta didik, maka perlu disusun secara sistematis. Sajian materi modul memperhatikan elemen uraian dan contoh yang dirancang untuk menumbuhkan proses belajar dalam diri pembaca.
Berikut merupakan elemen dasar yang ada dalam sajian modul :
1)    Uraian
Uraian dalam sajian materi modul adalah paparan materi-materi pelajaran berupa fakta atau data, konsep, prinsip, generalisasi atau dalil, prosedur atau metode, keterampilan, hukum, dan masalah.
2)    Contoh
Contoh berupa benda, ilustrasi, angka, gambar dan lain-lain yang mewakili atau mendukung konsep yang disajikan. Contoh bertujuan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang fakta atau data, konsep, prinsip, generalisasi atau dalil, hukum, teori, nilai, prosedur atau metode, keterapilan, dan masalah.


e.    Latihan
Latihan merupakan bentuk kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh peserta didik setelah membaca uraian sebelumnya. Gunanya untuk memantapkan pengetahuan, keteampilan, nilai, dan sikap tentang fakta atau data, konsep, prinsip, generalisasi atau dalil, teori, prosedur, dan metode. Latihan dapat ditempatkan disela-sela uraian atau di akhir uraian.
f.     Rambu-rambu Jawaban Latihan
Rambu-rambu jawaban latihan merupakan hal-hal yang harus diperhatikan oleh peserta didik dalam mengerjakan soal-soal latihan. Kegunaan rambu-rambu jawaban ini adalah untuk mengarahkan pemahaman peserta didik tentang jawaban yang diharapkan dari pertanyaan atau tugas dalam latihan dalam mendukung tercapainya kompetensi pembelajaran.
g.    Rangkuman
Rangkuman merupakan inti dari uraian materi yang disajikan pada kegiatan belajar dari suatu modul, yang berfungsi menyimpulkan dan memantapkan pengalaman belajar yang dapat mengkondisikan tumbuhnya konsep atau skema baru dalam pikiran peserta didik.
h.    Tes Formatif
Pada setiap modul selalu disertai lembar evaluasi yang biasanya berupa tes. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur apakah tujuan yang dirumuskan telah tercapai atau belum. Tes formatif merupakan tes untuk mengukur penguasaan peserta didik setelah suatu pokok bahasan selesai dipaparkan dalam suatu kegiatan belajar berakhir. Tes formatif ini bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Hasil tes formatif digunakan sebagai dasar untuk melanjutkan ke pokok bahasan selanjutnya.
i.      Kunci Jawaban Tes Formatif
Kunci jawaban tes formatif pada umumnya diletakan di bagian paling akhir suatu modul. Jika kegiatan belajar berjumlah 2 buah, maka kunci jawaban tes formatif terletak setelah tes formatif kegiatan belajar 2 dengan halaman tersendiri. Tujuannya agar peserta didik benar-benar berusaha mengerjakan tes tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu. Jawaban peserta didik terhadap tes yang ada diketahui benar atau salah dapat dilakukan dengan mencocokannya dengan kunci jawaban yang ada pada lembar ini. Tujuannya adalah agar peserta didik mengetahui tingkat penguasaannya terhadap isi kegiatan belajar tersebut. Di samping itu, pada bagian ini berisi petunjuk tentang cara peserta didik memberi nilai sendiri pada hasil jawabannya.
j.      Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Umpan balik dan tindak lanjut berisi kegiatan yang harus dilakukan peserta didik atas dasar tes formatifnya. Peserta didik diberi petunjuk untuk melakukan kegiata lanjutan, seperti : Terus mempelajari kegiatan belajar berikutnya bila peserta didik berhasil dengan baik yaitu mencapai tingkat penguasaan 80% dalam tes formatif yang lalu, atau mengulang kembali mempelajari kegiatan belajar tersebut bila hasilnya masih di bawah 80% dari skor maksimum.

  1. Langkah – Langkah Penyusunan Modul
Menurut Depdiknas dalam Penulisan Modul (2008: 12-16) disebutkan bahwa langkah pengembangan modul adalah : 1) Analisis Kebutuhan, 2) Desain Produk/Penyusunan Draft, 3) Validasi dan Evaluasi, dan 4) Revisi dan Produksi.
a.    Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis kompetensi atau tujuan untuk menentukan jumlah dan modul yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kompetensi tersebut. Analisis kebutuhan untuk pengembangan modul Elektrokimia ini bertujuan untuk memperoleh informasi yang akan digunakan untuk mengidentifikasi materi, kompetensi, jumlah bab, jumlah modul, dan konsep desain modul yang akan dikembangkan.
b.     Penyusunan Produk atau Penyusunan Draft
Penyusunan draft modul merupakan proses penyusunan dan pengorganisasian materi pembelajaran dari suatu kompetensi atau sub kompetensi menjadi satu kesatuan yang sistematis.
c.    Validasi dan Evaluasi
Validasi adalah proses permintaan persetujuan atau pengesahan terhadap kesesuain modul dengan kebutuhan. Untuk mendapatkan pengakuan kesesuaian tersebut, maka validasi perlu dilakukan dengan melibatkan praktisi yang ahli dan sesuai dengan bidang yang terkait.
            Evaluasi terhadap modul dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kebaikan dari modul. Sasaran evaluasi dapat berupa efektifitas modul dan evaluasi terhadap kualitas modul itu sendiri.
d.    Revisi dan Produksi
Revisi atau perbaikan merupakan proses penyempurnaan modul setelah memperoleh masukan dari kegiatan uji coba dan validasi sehingga modul siap diproduksi dari sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kegiatan sebelumnya.

F.    Materi Elektrokimia
  1. Karakteristik Elektrokimia
Salah satu materi dalam pelajaran ilmu kimia di sekolah adalah elektrokimia. Elektrokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari hubungan antar reaksi kimia dengan arus litrik. Elektrokimia secara umum terbagi menjadi dua kelompok yaitu sel galvani dan sel elektrolisis (Riyanto, 2012). Elektrokimia dianggap sebagai salah satu konsep kimia yang paling sulit. Materi ini terdiri dari sel volta dan sel elektrolisis merupakan materi yang bersifat abstrak, misalnya pergerakan elektron, terjadinya aliran arus listrik, dan pergerakan ion dalam jembatan garam sehingga untuk mempelajarinya peserta didik memerlukan bekal yang cukup, yaitu kemampuan berpikir formal, kemampuan menggunakan penjelasan secara mikroskopis, makroskopis, dan simbolik.
               Elektrokimia dapat diaplikasikan dalam industri rumah tangga maupun industri besar. Bidang-bidang yang memerlukan penerapan elektrokimia diantaranya industri bahan – bahan kimia, farmasi, polimer, otomotif, perhiasan, pertambangan, pengolahan dan bidang analisis (Riyanto, 2013).
2.    Materi Elektrokimia Program Keahlian Teknik Otomotif
a.    Sel Volta
Sel volta atau sel galvani adalah suatu jenis sel elektromia yang terdiri dari dua elektroda yang terpisah oleh jembatan garam dan larutan elektrolit. Ion- ion mengalir mengahntarkan arus listrik dari arah anoda menuju katoda melalui jembatan garam melalui reaksi redoks yang spontan.
b.    Sel elektrolisis
Mulyani dan Hendrawan (2005) mendefinisikan sel elektrolisis adalah suatu sel elektrokimia yang melibatkan reaksi redoks tidak spontan disebabkan energi listrik yang berasal dari luar. Komponen sel elektrolisis tersebut meliputi arus listrik searah (DC), kawat penghantar, sepasang elektroda, dan larutan elektrolit.
c.    Baterai
Chang (2003) mendifinisikan baterai sebagai suatu jenis sel volta yang dapat terdiri dari satu buah sel atau gabungan beberapa sel dengan rangkaian tertentu yang dapat digunakan sebagai sumber listrik searah pada voltase tetap. Baterai memiliki dua buah elektroda yaitu anoda dan katoda. Anoda adalah elektroda tempat terjadinya oksidasi, sedangkan katoda adalah elektroda tempat terjadinya reduksi. Pada kendaraan , baterai yang sering digunakan adalah aki. Sistem kerja aki adalah elektron bergerak dari anoda menuju katoda, sehingga dihasilkan arus listrik. Listrik tersebut kemudian digunakan untuk menghidupkan beberapa komponen lain dalam mesin kendaraan. Kebutuhan listrik yang terbesar pada kendaraan adalah ketika kendaraan tersebut adalah pada saat pertama kali dihidupkan. Listrik yang dibutuhkan untuk menyalakan mesin adalah sebesar 300- 400 A dan arus tegangan tinggi yang dihasilkan pada mayoritas mobil adalah 30000 V (Chang, 2004).
d.    Electroplating
Electroplating adalah proses pelapisan logam dan non logam menggunakan arus listrik searah atau direct current (DC) berdasarkan metode elektrolisis (Saleh, 2014). Pada proses elektrolisis, terjadi perpindahan ion-ion dari elektroda melalui larutan lektrolit menghasilkan endapan. Endapan yang dihasilkan dari proses elektrolisis akan tertempel di katoda. Logam pelapis yang digunakan sebagai lapisan pelindung diantaranya Tembaga (Cu), Nikel (Ni), Zink (Zn). Krom (Cr). Emas (Au), Perak (Ag) dan lain-lain.
e.    Korosi pada bidang otomotif
Korosi adalah suatu peristiwa atau menurunya mutu logam karena proses elektrokimia yang terjadi anatara logam dengan lingkungan sekitarnya (Sumarji, 2012). Proses korosi adalah proses elektrokimia, artinya pada proses tersebut melibatkan aliran listrik dengan reaksi kimia. Cara untuk mengatasi korosi adalah dengan cara pengecatan, melapisi dengan gemuk dan electroplating.















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.   Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan operasional sebagai berikut :
1.    Menghasilkan rancangan modul pembelajaran sesuai dengan hasil analisis kebutuhan.
2.    Menghasilkan modul pembelajaran yang telah melalui tahap pengkajian media, materi, dan bahasa.
3.    Menghasilkan revisi modul pembelajaran yang telah melalui tahap pengkaji media, materi, dan bahasa.
4.    Menghasilkan modul pembelajaran yang telah diuji coba oleh guru dan peserta didik, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar.
5.    Menghasilkan modul pembelajaran yang layak digunakan sebagai bahan ajar untuk peserta didik SMK Kelas X Jurusan Teknik Otomotif.

B.   Tempat dan Waktu Penelitian
Pengembangan, pengkajian, dan penyempurnaan modul dilaksanakan di Universitas Negeri Jakarta. Analisis kebutuhan, pendahuluan, dan uji coba kelompok kecil dan  besar dilaksanakan di SMK Negeri 5 Jakarta. Waktu pelaksanaan penelitian dan pengembangan modul ini dimulai pada bulan Oktober 2017 sampai dengan bulan Mei 2018.










Tabel 1. Jadwal penelitian pengembangan modul elektrokimia.
No
Kegiatan Penelitian
Bulan
10
11
12
1
2
3
4
5
1
Analisis kebutuhan (Studi lapangan)
ü







2
Analisis kebutuhan (Kajian Pustaka)

ü






3
Penyusunan Proposal

ü






4
Pengembangan Produk


ü
ü
ü



5
Pengkajian produk dan revisi





ü


6
Uji coba kelompok kecil dan revisi






ü

7
Uji coba kelompok besar dan revisi






ü

8
Penyusunan laporan akhir







ü

C.   Desain Pengembangan
Pengembangan modul ini menggunakan jenis penelitian pengembangan (research and development). Metode penelitian dan pengembangan adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian jenis ini berbeda dengan penelitian pendidikan lainnya karena tujuannya adalah mengembangkan produk berdasarkan uji coba untuk kemudian direvisi sampai menghasilkan produk yang layak pakai. Borg and Gall (dalam Sugiyono, 2011:4) menyatakan bahwa penelitian pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran.
Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model dari Dick & Carey (2009:6-8), yaitu :
1.    Analisis Kebutuhan dan Tujuan Pembelajaran
Melakukan analisis kebutuhan untuk menentukan tujuan program atau produk yang akan dikembangkan. Langkah pertama dalam proses R&D adalah menentukan informasi apa yang akan ditampilkan dan keterampilan yang akan diajarkan kepada peserta didik. Tujuan pembelajaran dapat berasal dari tujuan pendidikan nasional, analisis kinerja, analisis kebutuhan peserta didik, dan kesulitan belajar.
2.    Analisis Pembelajaran
Setelah identifikasi tujuan pembelajaran , langkah selanjutnya adalah menentukan langkah yang dilakukan agar tujuan pembelajaran tercapai. Proses analisis pembelajaran pada akhirnya akan menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan peserta didik.
3.    Analisis Pembelajar dan Konteks
Tahap selanjutnya adalah analisis paralel dari peserta didik, pihak yang akan belajar keterampilan hingga akhirnya menerapkan dalam kehidupannya. Keterampilan awal peserta didik, kecenderungan atau prioritas, dan sikap yang ditentukan bersama dengan karakteristik pembelajaran agar menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan.
4.    Menentukan Tujuan Pembelajaran
Langkah selanjutnya adalah menentukan pernyataan spesifik dari apa yang peserta didik dapat lakukan ketika mereka menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan ini berasal dari keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis pembelajaran, mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan akan didemonstrasikan , dan kriteria untuk tujuan pembelajaran yang sukses.
5.    Mengembangkan Instrumen Penelitian
Berdasarkan tujuan yang telah ditentukan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan penelitian yang sejajar dan mengukur kemampuan peserta didik untuk melakukan apa yang menjadi tujuan pembelajaran. Penekanan utama ditempatkan pada hal berkaitan dengan jenis keterampilan yang diuraikan dalam tujuan dengan persyaratan penelitian.
6.    Mengembangkan Strategi Pembelajaran
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi strategi untuk digunakan dalam pembelajaran. Strategi digunakan untuk membantu perkembangan peserta didik dalam belajar yang mencakup kegiatan sebelum pembelajaran, penyajian konten baru dengan contoh dan demonstrasi, kegiatan pembelajaran dan penilaian aktif, dan tindak lanjut yang berhubungan dengan kemampuan yang baru dipelajari untuk dilakukan dunia nyata.
7.    Mengembangkan dan Memilih Bahan Pembelajaran
Langkah selanjutnya adalah menghasilkan bahan pembelajaran yang sesuai dengan strategi pembelajaran. Bahan pembelajaran biasanya terdiri dari panduan bagi peserta didik, materi pembelajaran, dan penilaian.
8.    Mendesain dan Melakukan Evaluasi Formatif
Evaluasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran dan menentukan kesempatan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih baik.
9.    Melakukan Revisi
Langkah terakhir dalam desain dan pengembangan proses adalah melakukan revisi produk. Data dari evaluasi formatif berguna untuk mengetahui kekurangan produk dan selanjutnya diguakan memperbaiki kualitas produk.
10. Mendesain dan Melakukan Evaluasi Sumatif
Langkah terakhir dalam pengembangan produk adalah melakukan evaluasi sumatif. Evaluasi sumatif adalah evaluasi produk yang menghasilkan nilai absolut atau relatif dan terjadi setelah produk dievaluasi secara formatif dan revisi.




Gambar 1.  Komponen sistem pembelajaran Dick and Carey (Setyosari,2013)
 



D.   Prosedur Pengembangan
Tahap pengembangan Dick & Carey diadaptasi ke dalam penelitian pengembangan ini menjadi 4 tahap sesuai dengan langkah-langkah penyusunan modul yang telah dibahas di kajian teori yaitu :
1.    Tahap Analisis Kebutuhan
Tahap ini bertujuan utuk mengkaji tujuan dari produk yang akan dikembangkan. Produk yang akan dikembangkan adalah modul. Peneliti akan melakukan analisis kurikulum untuk menentukan produk yang sesuaid engan tuntutan kurikulum. Analisis kurikulum akan menghasilkan tema yang disesuaikan dengan Kompetensi Isi dan Kompetensi Dasar. Selain itu, tahap ini akan menentukan dan menetapkan modul yang akan dikembangkan dalam satu satuan program tertentu. Satuan program dapat diartikan sebagai satu tahun pelajaran, satu semester, atau hanya satu standar kompetensi.
2.    Tahap Desain Produk
Hasil dari analisis kebutuhan selanjutnya akan menentukan desain produk yang akan dikembangkan. Desain produk harus diwujudkan dalam gambar atau bagan, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya (Sugiyono, 2016). Kegiatan dalam desain produk meliputi menentukan komponen modul, konsep penyampaian materi, jenis tugas yang diberikan, soal evaluasi, gambar, artikel, contoh-contoh, serta layout modul.
3.    Tahap Validasi dan Evaluasi
Tahap ini merupakan tahapan inti yang berupa rangkaian penilaian pengembangan produk. Tahapan pra-validasi dilakukan dengan mengkonsultasikan produk awal kepada dosen pembimbing untuk mendapat masukan awal. Tahap pra-validasi berguna untuk menilai kelayakan produk sebelum dinilai oleh validator. Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk yang akan dikembangkan secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak (Sugiyono, 2016).
Validasi terhadap desain awal dilakukan oleh pakar atau ahli yang sudah berpengalaman. Validasi yang dilakukan terhadap produk akan menghasikan evaluasi dan saran dalam pengembangan produk yang berguna untuk memperbaiki dan merevisi produk yang sedang dikembangkan.
Kemudian dilakukan tahap uji keterbacaan, yaitu produk diterapkan ke dalam proses pembelajaran kimia di SMK untuk kemudian peserta didik menilai dan memberi masukan terhadap modul tersebut. Selain itu, uji keterbacaan juga dilakukan oleh sesama mahapeserta didik untuk menghasilkan klritik dan saran dalam rangka penyempurnaan produk.
4.    Tahap Produk Akhir
Pada tahap ini akan dihasilkan produk akhir yang siap  diproduksi secara massal dan disebarkan sebagai modul dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, pengembangan hanya sampai pada tahap evaluasi formatif. Hasil dari evaluasi formatif dilakukan sebagai masukan atau input untuk memperbaiki produk awal.




Gambar 2.  Prosedur Pengembangan Modul (Diadaptasi dari Dick & Carey )
 


E.   Desain Uji Coba Produk
Produk berupa modul dilakukan pengujian untuk mengetahui kualitas dan kelayakannya. Uji produk adalah bagian dari rangkaian tahap validasi dan evaluasi. Produk akan dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, ahli, guru kimia SMK dan peserta didik SMK sebagai calon pemakai modul. Berikut adalah langkah-langkah dalam tahapan validasi dan evaluasi :
a.    Pravalidasi
Pada tahap ini, peneliti melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing tentang produk modul yang telah disusun. Tujuan dari tahap ini adalah mendapatkan masukan, kritik, dan saran dari dosen pembimbing tentang kualitas modul sebelum ahli melakukan validasi. Diharapkan masukan dari dosen pembimbing akan membuat produk modul semakin berkualitas.
b.    Validasi Pakar atau Ahli
Ahli atau pakar melakukan validasi terhadap modul agar dapat diketahui kekurangan yang masih ada. Hasil dari validasi ahli atau pakar akan menjadi bahan untuk membuat revisi produk. Ahli atau pakar menilai kelayakan modul ditinjau dari empat komponen kelayakan yaitu aspek materi, bahasa dan gambar, penyajian dan tampilan. Selain itu, guru Kimia SMK juga menjadi validator yang akan menilai semua komponen kelayakan modul.
c.    Uji Keterbacaan Peserta didik
Uji keterbacaan peserta didik dilakukan terhadap peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tujuan dari uji keterbacaan peserta didik adalah untuk mengetahui kelayakan modul yang telah dikembangkan berdasarkan penilaian peserta didik. Modul yang sudah divalidasi oleh validator perlu disempurnakan lagi agar nantinya relevan dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik sebagai calon pengguna.



F.    Subjek Uji Coba
Subjek penelitian meliputi ahli atau pakar, guru kimia SMK, dan satu kelas peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam uji keterbacaan peserta didik.

G.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian pengembangan modul elektrokimia untuk SMK adalah angket atau kuesioner. Penyusunan instrumen mengacu pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Data yang dikumpulkan antara lain :
1.    Hasil analisis kebutuhan guru dan peserta didik.
2.    Hasil uji validitas produk oleh pengkaji media, pengkaji materi, dan pengkaji bahasa.
3.    Hasil uji coba kelompok kecil.
4.    Hasil uji coba kelompok besar dan lembar observasi pembelajaran.

H.   Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari tiga bagian, yaitu instrumen analisis kebutuhan, instrumen uji validasi oleh tim pengkaji, dan instrumen uji coba kelayakan .
1.    Instrumen Analisis Kebutuhan
Instrumen ini berisi pertanyaan kepada guru dan peserta didik, yang bertujuan untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru dan peserta didik dalam pembelajaran kimia, kemudian kebutuhan guru dan peserta didik pada materi Elektrokimia, agar diperoleh suatu pemecahan masalah yang sesuai dengan kebutuhan.
2.    Instrumen Uji Validasi oleh Pengkaji Media, Materi, dan Bahasa
Instrumen ini berisi pernyataan kepada pengkaji media pembelajaran, pengkaji materi-materi Elektrokimia, dan pengkaji bahasa Indonesia. Para pengkaji memberikan penilaian terhadap produk awal yang dihasilkan, sehingga dapat disimpulkan apakah produk telah memenuhi syarat atau perlu dilakukan perbaikan sebelum dilakukan proses uji coba.
3.    Instrumen Uji Coba Kelayakan oleh Guru dan Peserta didik
Instrumen ini berisi pernyataan kepada guru dan peserta didik sebagai subyek yang akan menggunakan produk hasil penelitian ini. Hasil analisis instrumen uji kelayakan dapat dijadikan bahan evaluasi dalam perbaikan produk sebelum tercapai produk akhir. Pada tahap ini dibutuhkan instrumen lembar observasi, sebab modul elektrokimia yang akan dihasilkan juga perlu dinilai dari segi kemampuan modul dalam mendukung pembelajaran.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Skala Likert (Sumnated Rating Scales) dengan cara meminta responden untuk mengisi skala sikapnya untuk menentukan pendapatnya pada suatu kontinum sikap mulai dari : Sangat Setuju – Setuju -  Tidak Setuju  - Sangat Tidak Setuju (Sudaryono, Margono, & Wardani, 2013). Skala ini mengacu pada instrumen penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Tabel 2. Bobot nilai pernyataan positif dan negatif
No.
Pilihan Jawaban
Bobot Nilai
Pernyataan Positif
Pernyataan Negatif
1
Sangat Setuju
4
1
2
Setuju
3
2
3
Tidak Setuju
2
3
4
Sangat Tidak Setuju
1
4






I.      Teknik Analisis Data
Perhitungan untuk batas baik dan buruknya modul pembelajaran yang dikembangkan untuk dijadikan alternatif sumber belajar adalah sebagai berikut  (Sukardi, 2003) :

Kelayakan modul pembelajaran yang didasarkan pada kriteria interpretasi skor sebagai berikut :

Tabel 3. Kriteria interpretasi skor untuk rating scale
Presentase
Interpretasi
Angka 0% - 25%
Kurang Baik
Angka 26% - 50%
Cukup Baik
Angka 51% - 75%
Baik
Angka 76% - 100%
Sangat Baik


















DAFTAR PUSTAKA


Abualrob, M., & Shah, M. 2012. Science Technology and Society Modules Development Process and Testing on Its Effectiveness. Procedia-Social and Behavioral Sciences,46, 811-816.
Akcay, B., & Akcay, H. 2015. Effectiveness of Science-Technology-Society (STS) Instruction on Student Understanding of the Nature of Science and Attitudes Toward Science. International Journal of Education in Mathematic,Science and Technology,3(I), 37-45.
Anwar, I. 2010. Pengembangan Bahan Ajar. Bandung: Direktori UPI.
Arifin, F., & Nasrudin, H. 2014. Development of Student Worksheet Which Contextual Approach Oriented to Train Critical Thinking Skills on Reaction Rates Subject Matter in Student Grade XI Senior High School. Unesa Journal of Chemical Education, 3(III).
Arsyad. 2004. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press.
Asliyani, M.Rusdi, & Asrial. 2014. Pengembangan Bahan Ajar Kimia SMK Teknologi Kelas X. Edu-Sains, 1-7.
Chang, R. 2004. Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Daryanto. 2006. Pengetahuan Baterai Mobil. Jakarta: Bumi Aksara.
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA,Dirjen Mandikdasmen.
Faizah, S. 2011. Pengembangan Bahan Ajar Kimia SMK Kelas X Program Keahlian Teknk Mesin Untuk Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok [Tesis]. Malang: Universitas Negeri Malang.
Faraday, S., Overton, C., & Cooper, S. 2011. Effective Teaching and Learning. London: LSN.
Hartomo, J., & Tomojiro, K. 1995. Mengenal Pelapisan Logam. Yogyakarta: Andi Offset.
J.Garnett, P., & F.Treagust, D. 1992. Conceptual Diffilcuities Experienced by Senior High School Student of Electrochemistry " Electrochemical (Galvani) and Electrolytic Cell. Journal of Reseacrhin Science Teaching 29 (2), 1079-1099.
Lin, H.-S., Y, T. C., Chiu, H.-L., & Chou, C.-Y. 2002. Students’ Difficulties in Learning Electrochemistry. Proc. Natl. Sci. Counc. ROC(D) 12 (3), 100-105.
Majid, A. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyani, S., & Hendrawan. 2005. Kimia Fisika II. Bandung: FMIPA UPI.
Mulyasa. 2006. KTSP Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Obomanu, B. J., & Onuoha. 2012. Students Conceptual Difficulties in Electrochemistry in Senior. Journal of Emerging Trends in Educational Research and Policy Studies (JETERAPS) 3 (1), 99-102.
Prastowo, A. 2015. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.
Purwanto, N. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Riyanto. 2013. Elektrokimia dan Aplikasinya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sagala, S. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dalam Mengajar. Bandung: Alfabeta.
Saleh, A. 2014. Electroplating-Teknik Pelapisan Logam dengan Cara Listrik. Bandung: Yrama Widya.
Sanger, M., & Greenbowe, T. 2000. Addresing Student Misconceptions Concering Electron Flow in Electrolyte Solution with Instruction Including Computer Aimation and Conceptual Change Strategist. International Journal of Science 22, 521-537.
Setyosari, P. 2013. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenamedia.
Sudaryono, Margono, & Wardani, R. 2013. Pengembangan Instrumen Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif,Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sumarji. 2012. Evaluasi Korosi Baja Karbon Rendah ASTM A36 pada Lingkungan Atmosferikdi Kabupaten Jember. Rotor, 5 (I).
Sungkono. 2009. Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogykarta.
Vaino, K., Holbrook, J., & Rannikmane, M. 2012. Stimulating Student's Instinsic Motivation for Learning Chemistry the Use of Context-Based Learning Modules. Chemistry Education Research and Practice, 410-419.
Widodo, W., Subandi, & Munzil. 2016. Kajian Pendekatan Kontekstual dalam Bahan Ajar Elektrokimia untuk SMK Teknik Mesin. Pros.Semnas Pend.IPA Pascasarjana UM (pp. 723-729). Malang: Universitas Negeri Malang.
Winkel, W. 2009. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.


Komentar