LET IT GO - Irsan's Story

Icon Gallery

LET IT GO

Cerita Pendek

 

 

Sanschiffer

1/20/2021

 

 


 

LET IT GO

Karya : Irsan Sumarna

 

Desember, 2018

            “San, jadi pulang gak Sabtu nanti?” tanya Icus teman kelasku saat SMA.

            “Sepertinya jadi Cus, kenapa emangnya? Kangen ya?” jawabku.

            “Ah Elu mah suka becanda mulu, inget kan nanti kita ada agenda?”.

            “Iyah , iyah inget pasti datang kok Cus”.

            “Oke deh, awas aja yah kalau sampai gak datang” Icus mengancam.

            “Iyah bawel yah, btw aku patungan uang aja atau beli barang?” Tanya aku kepada Icus.

            “Patungan aja udah, uangnya kasih aja ke si Ina nanti, biar dia aja yang beli kado”

            “Yaudah tapi kadonya yang bagus yah Cus”.

            “Emang mau patungan berapa sampe request kado yang bagus segala?”

            “Hahahaha….yaudah lah sok atur-atur aja Cus, aku mau kerja lagi, bentar lagi masuk kelas soalnya. Irsan mengakhiri pembicaraan.

            “Oke, Sip” Icus menjawab dengan singkat.

Desember ini akan jadi Desember yang tak terlupakan bagiku. Acara pernikahan yang harus kudatangi nanti adalah acara pernikahan mantan pacarku. Rasa senang campur kecewa terus mengusik hatiku. Senang karena akhirnya Dia mendapatkan jodoh yang baik diwaktu yang tepat dan kecewa karena jodohnya bukan Aku. Yah, pada akhirnya Aku hanya bisa mengikhlaskan, dan turut berbahagia atas pernikahannya.

###

Sebulan sebelumnya …

            “San, aku liat si Ai di Bus” Iki mengabariku lewat pesan singkat.

            “Wah yang bener, di mana?” Aku yang sedang membaca materi pelajaran untuk bahan ajar menjadi tidak fokus dan ingin segera Iki membalas pesanku.

            “Ini di Bus, aku lagi perjalanan pulang ke Sukabumi, terus sepertinya Aku kenal dengan yang duduk tepat banget di depan kursiku San, kayaknya itu si Ai mantan kamu”.

Iki temanku dari SD sampai sekarang. Dia sedang kuliah di Bogor dan kebetulan pekerjaaku juga bertempat di Kota Bogor. Akan tetapi, pada saat SMA Dia berbeda sekolah denganku, dan hanya beberapa kali bertemu dengan Ai. Jadi, maklum saja kalau mereka berdua berpapasan pun tidak akan saling mengenal dan menyapa.

            “Coba ciri-cirinya gimana Ki?”

            “Ah elah masa harus dijelasin sih San” Iki mengeluh.

Irsan yang penasaran pun akhirnya mengirim pesan singkat kepada Ai, yang kebetulan nomor kontaknya ada di grup whastapp alumni SMA. Tanpa pikir panjang Irsan pun langsung mengirim pesan.

            “Ay, kamu pulang ke Sukabumi?” Tanya Irsan.

Tak lama kemudian, pesannya dibalas.

            “Iyah, San, ada urusan” Jawab Ai singkat.

Irsan pun tidak berani melanjutkan percakapan dikarenakan masih tahu batasan. Ai yang sudah punya calon dan Irsan juga sekarang sedang dekat dengan orang lain.

Tak lama berselang, Iki pun mengirim pesan.

            “San, kamu kirim pesan ke si Ai yah?”

            “Lah kok bisa tau?”

            “Keliatan dari poto profilnya, mencolok banget pas si Ai buka hape tiba-tiba poto profilmu ada dipaling atas” kata Iki

            “Hahaha, gak apa-apa Ki, cuma nanya kabar ko”

            “Iyasih gak apa-apa, cuman jadi gak enak aja, sekarang si Ai nya malah celingak-celinguk kaya nyariin orang gitu, nyangkanya kamu ada di bus yang sama juga kali yah”

            “Yaudah Ki biarin aja, pura-pura tidur aja”

###

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku melihat Ai mengunggah Snapgram yang berisi bahwa Dia sudah melakukan registrasi pernikahan ke KUA dan mengunggah poto berdua dengan calonnya dengan latar biru. Perasaan campur aduk pun terjadi.

Aku dan Dia memang sudah tidak ada hubungan lagi sejak aku memasuki semester dua perkuliahanku. Lebih tepatnya dari tahun 2015 lalu. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti hubungan kita akan kembali seperti dulu. Dan harapan itu pun seketika sirna saat aku melihat post-ingannya di Instagram tersebut.

Aku merasa ada yang kurang saat kita berdua memutuskan sebuah hubungan yang sudah terjalin saat masa SMA itu. Perasaanku masih mengatakan bahwa hal itu masih ganjil dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan jarang bertemu bisa putus begitu saja. Masalahpun seharusnya tidak ada, pikirku. Bahkan sampai saat ini, aku belum bertemu dan berbicara secara langsung dengannya tentang masalah yang sebenarnya terjadi. Tapi jika Dia sudah memilih yang lain saat itu, maka semuanya tidak perlu ada penjelasan lagi.

###

 

Februari, 2013

            “Kamu suka dengerin lagu j-rocks juga?” aku bertanya kepada cewek disamping tempat dudukku.

            “Iyah, kenapa?” Tanya dia

            “Enggak apa-apa, kamu tau JKT 48 gak?” aku bertanya

            “Idol yang nyanyi lagu jepang-jepang itu kan?”

            “Iyah itu dia bener”

            “Kenapa emang?”

            “Kalau aku liat-liat, kamu mirip member JKT 48 tau”

            “Hah, masa sih? Siapa?”

            “Mirip sama yang namanya Rena Nozawa, liat deh” aku menyodorkan poto di gawaiku kepadanya.

            “Ah enggak ah,gak mirip”

            “Yah , pokoknya mirip hahaha”

            “Eh dasar aneh”

Sudah enam bulan aku sekelas dengan Ai. Tapi baru kemarin saku bisa berkomunikasi dengan dia. Wajahnya sangat mirip dengan Idol JKT 48. Meskipun orang-orang tidak banyak yang tau sh. Semenjak kejadian itu, entah kenapa aku jadi sering teringat dia.

Keesokan harinya aku memberanikan diri untuk meminta nomor teleponnya. Berharap bisa saling berkomunasi setelah sepulang sekolah.

            “Ai, minta nomor telepon boleh? Tanya Aku

            “Boleh, asal jangan sama hapenya aja”

Dalam hati, aku merasa senang. Pertanda baik pikirku. Berminggu-minggu aku sering berkirim pesan dengannya. Mulai dari membicarakan hobi, pelajaran, bahkan omongan basa-basi. Aku semakin dekat dengannya. Lebih dekat daripada sekedar teman kelas biasa.

Aku terpesona olehnya.

Bolehkah aku lebih dekat denganmu?

Bolehkah aku mengganti status hubungan di Facebook?

            “Kalau status di Facebook diganti jadi berpacaran gimana? Masalah gak?” aku bertanya

            “Hah, kok di Facebook? Kalau aslinya enggak gitu?” Tanya dia.

            “Jadi maksudnya?”

Jadi inikah yang dinamakan jatuh cinta. Seketika aliran darahku memuncak di kepala, rasa senang yang tak terbendung, tubuhku lemas tapi sangat gembira.

            “Eh obrolan apa nih?” ternyata Agus menguping di belakang tempat dudukku.

            “Agus?!!”

            “Hahaahahaha ketauan yah kalian” kata Agus dengan berisik

Sontak seisi kelas terpaku pada kami bertiga. Aku, Ai, dan Agus. Mereka seolah bertanya-tanya apa yang terjadi. Agus pun bertertiak di dalam kelas bahwa aku dan ai sudah berpacaran. Bahkan itu belum pasti menurutku. Karena obrolanku kepotong oleh Agus.

Tapi aku anggap itu jawaban “ya”.

Motivasiku untuk sekolah semakin besar sekarang. Selain untuk mencari ilmu, juga bisa melihat orang yang kusuka. Setiap hari aku selalu berbincang dengannya, bersenda gurau, belajar bersama, mengerjakan PR bersama, dan kumpul dirumah teman-teman bersama juga. The best day ever setiap harinya. Pikirku.

            “Oy pasangan bucin di kelas, mau ikut masak-masak gak di rumah aku?”

Aku menengok kearah Susan yang mengajakku barusan. Tak hanya aku yang menengok. Agung, Niki, Maya, dan Zaki pun menengok.

Ya. Mereka juga pasangan bucin di kelas XI-IPA 1 saat itu.

            “Oke ayo !” seru Zaki

            “Jangan ayo doing, beli bahan makanannya juga” kata Susan

            “Yang cowok beli bahan makanan, anak ceweknya nanti yang masak” kata Ina

Keseharian kami pun terus berlanjut. Sering sekali agenda berkumpul di rumah teman seperti itu terjadi. Aku bahkan tak bisa menghitung berapa kali kami berkumpul. Keluarga. Aku menyebutnya seperti itu.

Bahkan saat beranjak naik kelas pun, kami masih selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul. Padahal saat itu, kami semua tidak sekelas lagi. Aku dan Ai pun berbeda kelas. Tapi itu tidak berpengaruh sama sekali. Kedekatan aku, Ai, dan teman-teman yang lainnya tidak terbatas oleh sebuah kelas.

            “Kenapa kita sekelas terus yah dari kelas X?” Tanya Aku

            “Gak mau bukan?” ucap Zaki

            “Udah jangan ditemenin Zak si Irsan, mau cari temen baru kali” ucap Aldi

            “Buruan cari bangku paling depan San, biar gak ada yang disuruh duduk di depan” ucap Ari.

Aku memang sangat senang duduk di depan . Dan mereka pun sekelas lagi denganku.

            “Ai, kamu duduk sama siapa sekarang? si Maya beda kelas kan?” Tanya Aku

            “Sama si Susan atau Icus aja, sama siapapun juga gak masalah sih” ucap Dia.

            “Oh oke deh, kelas kita tetep bersampingan kok, kalau ada pelajaran yang mau ditanyain, jangan sungkan yah”

            “Iyah, terima kasih yah”

###

Januari, 2014

            “Oy hentikan, bajuku kotor banget ini”

            “Gak apa-apa san, kapan lagi kan ulang tahun kamu dirayakan di sekolah haha” kata Agus.

            “Ini bekas telor gini bisa ilang gak nih?” Tanya aku

Terlihat teman-temanku melempariku dengan tepung terigu, telor, dan tanah yang kotor. Ya, hari ini adalah hari ulang tahunku. Cuaca sedang hujan lebat, aku basah kuyup karena dipaksa keluar kelas oleh teman-temanku. Untung saja jam pelajaran sudah selesai. Aku tidak melihat Ai saat itu. Aku pikir dia akan mengejutkanku dengan sebuah kado. Mungkin.

Setelah puas dengan bermain kekanak-kanakan seperti itu, aku dan temanku, Ari, pulang kerumahku. Aku segera mandi dan berganti pakaian. Saat itu diluar terdengar rusuh sekali seakan banyak orang yang ingin membuka pintu.

            “Siapa sih di luar, berisik amat” pikirku

            “Selamat ulang tahuuuuun !!!!”

Teman-temanku berkunjung ke rumahku lagi. Terlihat ada Ai, dan juga teman perempuanku yang lain. Ibuku merasa kaget melihat banyak temanku yang datang.

            “A, itu gimana? Kok gak bilang kalau bakal banyak temen yang datang?” Tanya Ibuku

            “Gak tau juga Mah, mereka kasih kejutan itu”

            “Yaudah sekarang beli nasi padang aja yang banyak yah, Mamah gak masak soalnhya”

            “Iyah Mah”

Rumahku penuh sesak dengan teman-temanku yang datang tanpa permisi. Aku senang. Baru kali ini ulang tahunku dirayakan seperti ini. Aku bersyukur mempunyai teman-teman yang baik seperti mereka.

            “San, ini kado buat kamu” Ai menyodorkan sebuah kado yang dibungkus dengan kain batik cokelat. Sebuah kotak. Jam tangan. Dompet. Mungkin.

            “Wah, keren sekali !” aku terpukau saat membuka bungkusan kado itu.

            “Kamu suka Naruto kan?” Tanya Ai.

            “Iyah suka banget, terima kasih yah”

Aku diberikan kado berupa Action Figure Naruto dari serial anime Naruto Shippuden. Aku tak tahu harus berkata apa. Tapi, terima kasih telah memberikan kenangan yang tak terlupakan ini.

            “Anak-anak ini makan dulu, maaf yah seadanya” kata Ibuku

            “Eh iyah bu maaf ngerepotin jadinya, terima kasih ya Bu” kata teman-temanku

            “Kalau udah makan, jangan lupa di cuci” ucap aku becanda kepada mereka

            “Biarin aja, yang lagi ulang tahun bebas deh haha” ucap Aldi

Mereka pun makan bersama di rumahku. Hingga waktu sore tiba, semua orang pulang. Ya. Ai juga pulang tentunya. Aku tak bisa mengantar pulang karena aku tak punya kendaraan dan memang belum bisa memakai kendaraan bermotor.

Hari itu, menjadi hari tak terlupakan buatku.

Terima kasih.

###

 

Desember, 2014

            “Dari Kp. Rambutan ke Karawang jauh tidak Ay?”

            “Lumayan , sekitar 1 – 2 jam San”

            “Kamu libur kerja hari Sabtu dan Minggu kan?”

            “Iyah, beneran mau kesini kan?”

            “Iyah besok, Aku juga mau tahu tempat kerja dan kontrakan Kamu”

Saat itu Aku berniat untuk menjenguk Ai di Karawang. Aku masih belum dewasa dan masih takut untuk bepergian jauh. Terlebih Aku juga baru saja pindah ke Jakarta dan masih asing dengan kota tersebut. Sekarang Aku sudah harus pergi ke kota lain lagi. Tapi Dia saja berani. Pikirku. Aku lihat aplikasi Maps dan melihat jalur untuk sampai ke Karawang.

            “Ini turun di mana ya Ay nanti?”

            “Nanti dar Terminal Kampung Rambutan naik bus Agra Mas yang warna merah, jurusannya Karawang. Nanti bilang aja mau ke Terminal Klari, setelah itu kabarin lagi aja yah” Ai menjelaskan dengan rinci.

            “Oh oke deh, gak bakal nyasar juga kan yah”

            “Ya enggak lah kan cuma satu jalur. Eh nanti bawa buku Ms.Excel dong, mau pinjem buat belajar lagi” ucap Ai.

            “Iyah nanti ingetin lagi aja sebelum berangkat”

Keesokan harinya aku pun berangkat ke Terminal Kampung Rambutan dan menunggu bus yang menuju arah Karawang.

            “Ini ke Karawang yah Pak?” Tanya Aku kepada mas kondektur

            “Iyah benar, masih kosong Mas, duduk aja”

            “Iyah Pak, nanti lewat Terminal Klari gak?”

            “Enggak mas, gak lewat, tapi berhenti disitu nanti”

            “Sama aja dong Pak”

            “Baru pertama kali naik bus Karawang ya Mas?”

            “Iyah Pak”

            “Tujuannya mau kemana emang Mas?”

            “Kurang tau Mas, saya disuruh turun dulu di Terminal Klari , setelah itu dijemput”

            “Oh yaudah Mas, duduk aja”

            “Saya bayar ongkosnya sekarang aja ya Pak, takut kelupaan”

Bus berjalan pelan, Aku pun mendengar banyak sekali pedagang asongan yang hilir mudik kedalam bus. Aku sedikit merasa rishi dengan kondisi itu. Takut. Iya. Takut kecopetan atau hipnotis.

            “Mau kemana Dek?” Tanya penumpang di sebelahku.

            “Terminal Klari Pak”

            “Oh itu tujuan akhir sih jadi tinggal duduk aja sampai Terminal terakhir”

            “Iyah Pak terima kasih”

Aku sedikit takut. Aku waspada sepanjang perjalanan. Tiba-tiba bus sudah akan masuk ke jalan bebas hambata. Nampak seorang pengamen masuk ke dalam bus dan menyanyikan banyak sekali lagu. Pengamen yang tak biasa, pikirku. Sekitar tiga puluh menit, pengamen itu membawakan lagu, dan akhirnya tibalah kantong khas pengamen itu berkeliling. Karena merasa puas dengan lagunya, Aku pun memberikan sedikit rezekiku.

            “Yoo, sedikit bagi Anda, rezeki bagi kami. Hati – hati diperjalanan, jangan sampai barang Anda tertinggal apalagi berpindah tangan” ucap pengamen itu.

Aku semakin merasa harus waspada ketika ada yang bilang begitu.

Sepanjang perjalanan aku melihat pesawahan membentang di kanan dan kiri jalan. Gersang sekali pikirku. Tak ada gunung ataupun pepohonan rindang. Sebuah dataran rendah pikirku. Hawa panas semakin terasa meskipun di dalam bus ada pendidingin udara.

Akhirnya, setelah menempuh perjalan kurang lebih satu jam, aku tiba di Terminal Klari. Segera aku hubungi ai, bahwa aku sudah tiba.

            “Ay, ini sudah di Terminal Klari, terus kemana lagi yah?”

            “Dari terminal, naik angkot warna hijau yah, terus nanti setelah lampu merah ada Indomaret. Nah kamu turun disitu aja, nanti aku kesitu”

            “Okeh”

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan itu. Di depan Indomaret terlihat seorang perempuan memakai sweater abu,berkerudung pink, dengan pipi merah merona, dan tampak senyuman ke arahku.

            “Gimana jauh gak?” Tanya Ai.

            “Lumayan, disini lebih panas dari Jakarta yah” ucap Aku.

            “Iyah panas banget disini, mandi pagi aja pasti gak bakal terasa dingin”

            “Dari sini masih jauh gak ke tempat tinggal kamu?”

            “Enggak kok, tinggal jalan beberapa meter aja” kata Ai.

Diperjalan Ai banyak bercerita tentang pekerjaan,dan kondisi sosial di sana. Dan tak terasa kami pun sudah sampai di tempat tujuan. Di dekat tempat tinggalnya ada seorang saudara dari Sukabumi. Kami pun bertemu dan sempat mengobrol sebentar saat itu. Tak banyak hal yang diperbincangkan saat itu.

            “Ay, betah gak disini?” Aku bertanya.

            “Betah karena butuh sih San, udah rezekinya disini kan harus disyukuri”

            “Iyah juga yah, semangat pokoknya, kabarin aku kalau ada apa-apa yah”

            “Iyah. Eh buku dibawa gak?”

            “Ini dibawa, buat apa emangnya Ay”

            “Buat belajar lagi, kan di tempat kerja memang harus pake Ms.Excel dan juga aku ada rencana kuliah juga”

            “Wah syukurlah kalau gitu, kuliah di Karawang kan?”

            “Iyah disini aja, biar sekalian sambil kerja”

            “Yakin bisa bagi waktu gak?”

            “Harus yakin dong, pokoknya harus diniatin dulu” jawab Ai.

            “Recana mau ambil jurusan apa emang?”

            “Informatika aja sih kayaknya, biar nyambung aja sama kerjaan yang sekarang”

            “Oh oke deh, nanti kalau mau tes kabarin lagi, siapa tau ada yang mau kamu tanyain kan”

            “Iyah nanti aku kabarin, masih lama ko dibuka pendaftarannya. April atau Mei kalau tidak salah”

            “Iyah kabarin aja yah”

            “Eh iya San, tadi kan saudara aku bawa temennya, katanya mau minta diajarin gitu”

            “Diajarin apa?”

            “Gak tau tuh, tadi sih katanya mau diajarin buat isi soal, katanya mau masuk PT yang sama dengan aku juga, tapi tes nya beda dengan aku, jadi aku gak bisa bantu”

            “Oh yaudah, suruh aja kesini”

Tak lama seorang lelaki muncul. Dia adalah orang yang dibicarakan tadi. Langsung saja aku sapa dan berbincang-bincang sedikit.

            “Jadi mau minta diajarin apa emang?” Tanya Aku.

            “Ini ada soal buat tes masuk kerja”

            “Eh tapi aku juga belum kerja, jadi cuma bantu sebisanya aja yah”

            “Iyah, ini soal IPA anak SMA kok, cuman aku sudah lupa pelajaran sekolah” ucap Dia.

Aku pun mengisi soal-soal tersebut sembari sedikit memberikan arahan kepadanya. Semua soal pun sudah aku ajarkan. Tak terasa waktu sudah menjelang sore hari. Dan aku harus pamit pulang karena bus terakhir menuju Terminal Kampung Rambutan saat itu sekitar jam lima sore.

            “Kamu ada bekal untuk bulan ini kan Ay?”

            “Ada kok, jangan khawatirin aku, khawatirin aja diri kamu sendiri dulu yah, kuliah yang bener jangan bolos, jangan main sana-sini, jangan ganjen juga sama cewek lain”

            “Iyah siap, nyonya”

            “San, ini” Ai memberika bungkusan kado berbentuk kotak percis seperti yang diberikannya dulu

            “Apa ini?”

            “Buat kamu, beberapa minggu lagi kamu ulang tahun kan?”

            “Kenapa sekarang?”

            “Ya, aku gak tau kamu bisa kesini lagi kapan kan”

            “Oh, iyah terima kasih”

            “Di bukanya nanti saja di Bus yah”

            “Iyah”

            “Oh, dan juga kalau ada waktu, sesekali kasih aku kabar yah, jangan sibuk dengan tugasnya terus”

            “Iyah, kalau sempat aku kabarin, tau sendiri kan laporan praktikum aku numpuk banget tiap hari”

            “Kalau mau berkorban sih pasti bisa, hehehe”

            “Iyah, iyah, anter ke depan sekarang yu, udah kesorean banget ini”

            “Iyah, nanti naik bus yang tadi lagi yah”

            “Siap, kamu yang sehat disini, semangat juga kalau mau kuliah, jangan sampai telat makan yah, jaga kesehatan pokoknya”

Tak banyak obrolan yang aku ucapkan saat itu. Tapi sebenarnya aku masih ingin menemaninya. Jarang sekali ada waktu untuk bertemu. Kesibukan kita berdua mengharuskan hal ini terjadi. Atau aku yang kurang berkorban?

            “Kapan-kapan kesini lagi yah, kita jalan – jalan sekitaran Kota Karawang nanti”

            “Iyah, nanti yah”

            “Yaudah sana, hati – hati yah”

            “Iyah, aku kabarin nanti setelah sampai di Terminal Kampung Rambutan yah”

Hari itu merupakan hari yang tak terlupakan. Aku yang biasanya tidak pernah keluar rumah, sekarang harus bepergian melintasi berbagai kota yang asing bagiku. Tapi pengorbananku masih belum seberapa pikirku. Aku masih sangat egois karena baru bisa bertemu pada saat itu, setelah sekian lama dari waktu kelulusan sekolah dulu. Enam bulan. Mungkin lebih. Padahal jarak Jakarta – Karawang tidak terlalu jauh.

Dompet.

Aku lihat dompet kamu sudah rusak, jadi aku berikan kamu dompet aja yah bukan action figure Naruto lagi. Happy Birthday. Ai.

###

 

Juli, 2015

Libur semester kuliah pun tiba dan aku pulang ke Sukabumi untuk menikmati liburan panjang. Aku menghubungi teman-temanku yang ada di Sukabumi untuk membuat rencana liburan bersama mereka. Kebetulan saat itu beririsan dengan libur panjang Idul Fitri juga sehingga temanku yang sudah bekerja pun punya waktu untuk berkumpul. Saat itu aku tak banyak berkomunikasi dengan Ai dikarenakan kesibukan masing-masing. Aku yang sibuk karena menghadapi ujian semester dan Dia yang sibuk karena pekerjaan dan juga mempersiapkan untuk pendaftaran masuk kuliah juga. Saat itu aku hanya menyapa lewat pesan singkat dan jarang sekali berkomunikasi.

Setibanya di Sukabumi, aku langsung mengabari semua temanku dan tentunya Ai juga.

            “Kamu jadi pulang gak liburan sekarang” Tanya aku kepada Ai.

            “Iyah jadi” jawab Dia.

Entah kenapa suasana menjadi canggung padahal kita masih ada hubungan saat itu. Pada saat itu anak-anak berkumpul untuk mengadakan acara buka puasa bersama di suatu tempat daerah Sukabumi. Aku bertanya kepada Ai, apakah dia bisa ikut acara tersebut atau masih berada di Karawang dan belum sempat pulang kampong padaa saat itu.

            “Ikut bukber gak besok?” Tanya Aku.

            “Sepertinya gak deh, masih belum libur soalnya”

            “Oh oke deh kalau seperti itu, hati-hati yah disana”

            “Iyah, terima kasih”

Keesokan harinya, semua orang berkumpul saat sore hari di tempat yang sudah direncanakan, Semua orang yang datang tampak bercakap-cakap, tertawa, dan bersenda gurau. Sementara itu, aku sibuk melihat gawai ku sambil menunggu balasan pesan dari Ai.

            “San, si Ai gak datang?” Tanya Icus.

            “Enggak Cus, masih kerja katanya”jawab Aku.

            “Iyah Cus, kemarin juga Dia bilang kalau hari ini belum libur, liburnya H-3 Idul Fitri katanya” Maya ikut menambahkan.

            “Emang kemarin si Ai bilang ke kamu May?” Tanya Aku.

            “Iyah kemarin sempat chatting-an San”.

            “Oh iyah May, nanti kumpul bareng lagi aja pas Dia udah pulan yuk May” ajak Aku.

            “Ayo aja Aku mah San” jawab Maya.

Acara buka bersama pun selesai setelah adzan Isya berkumandang. Semua orang pulang ke rumah masing-masing untuk melaksanakan salat Tarawih, tetapi ada juga yang lanjut ngobrol dan pergi ke tempat lain. Aku saat itu masih berada di tempat bersama Agung.

            “Gung, si Niki gak pulang juga?” Tanya Aku.

            “Enggak tau deh, gak ada kabar sama sekali”

            “Kamu udah putus atau belum sama Dia gung?”

            “Nah itu Dia yang membuat Aku bingung, Dia tiba-tiba bilang ingin putus tanpa alas an yang jelas San” jawab Agung.

            “Ada cowok lain kayaknya Gung hahaha “.

            “Yaaaaa, kalau misalkan ada harusnya ngomong aja, jangan jadi gantung kaya gini kan”.

            “Yaudah yang sabar Gung”

            “Pulang kapan nih San?”

            “Ayo sekarang aja, yang lain juga sudah pada pulang kan, tinggal kita, Maya, dan Zaki doing kan”.

            “Zak, pulang sekarang yu” Ajak Aku.

            “Aku kuy, San” jawab Zaki

            “May, Zak, jangan lupa yah kalau si Ai pulang nanti kita kumpul lagi”

            “Iyah bawel!” Jawab Maya.

Sampai Idul Fitri tiba, Aku dan Ai tidak ada kesempatan bertemu. Kemudian sehari setelah Idul Fitri aku bertanya kepada Ai, kapan kita bisa bertemu. Akan tetapi, Ai selalu saja berasalan seperti tidak ingin hari ini bertemu. Aku pun sangat heran saat itu, seperti ada yang aneh dari tingkahnya. Tidak pikir panjang, aku pun menghubungi teman dekatku , Febri.

            “Feb dimana? Keliling-keliling ke rumah teman yang lain yu”

            “Ayo, tapi nanti agak siangan yah, di rumah masih ada Saudara soalnya”.

            “Iyah Feb tenang aja”

Siang pun tiba, Aku dan Febri langsung berkeliling ke rumah teman yang satu ke teman yang lainnya.

            “San, bawa powerbank gak?” Tanya Febri

            “Bawa Feb, ini punya si Ai sih tapi gak apa-apa pake dulu aja”

            “Iyah nih , urgent baterai hape Aku udah sekarat”

Saat itu, Aku dan Febri tiba di rumah Ncex yang kebetulan ada Omon juga disitu.

            “Eh kalian, berduaan mulu yah dari dulu , udah kaya homo tau gak hahaha “ sambut Ncex.

            “Kalian juga dari SMP berduaan mulu kayaknya” jawab Aku.

            “Hahaha, bisa aja calon guru mah balesnya” jawab Omon.

            “Jangan bawa-bawa profesi ah” Jawab Aku.

Siang itu, kami pun bercakap-cakap ngalor-ngidul tidak karuan. Tiba-toiba perasaanku tidak karuan dan ingin menelpon Maya atau Zaki untuk menanyakan keberadaan Ai. Beberapa kali aku mencoba menelpon Maya tetapi tidak diangkat. Begitupun dengan Zaki.

Setelah kucoba beberapa kali, akhirnya Zaki mengangkat telepon.

            “Halo Zak, dimana?” Tanya Aku

            “Lagi diluar San, keliling-keliling sama Maya”

            “Oh pantesan daritadi ditelepon gak diangkat yah” ucap Aku.

            “Iyah San, ada apa? Tanya Zaki.

            “Enggak Zak, tiba-tiba pengen nanya aja, kamu tau kabar si Ai gak dimana? Lagi sama si Maya kan? Tolong dong sekalian tanyain, kali aja si Maya tau kabar si Ai kan”

Tak lama setelah obrolan itu, Ai membalas pesanku.

            “Iyah San ada apa? Aku lagi sama Maya dan Zaki, lagi berkunjung ke rumah Saudaranya si Maya”

            “Kok gak ngabarin Ay?”

            “Oh iyah tadi gak sempat soalnya”

Saat itu, aku merasa ada yang janggal dengan alasannya. Kenapa tidak jujur dari awal, dan kenapa Zaki, teman dekatku, tidak menghubungiku secepatnya kalau Ai sedang bersama Dia. Aku marah saat itu. Entah kenapa, aku merasa kesal sekali. Puluhan pesan singkat aku kirimkan kepada Ai untuk melampiaskan emosiku.

            “San apa-apaan sih, jangan kirim pesan banyak seperti itu, kalau mau ketemu ayo nanti setelah pulang dari sini” Ucap Ai.

            “Ketemu dimana?” Tanya Aku.

            “Di jalan arah pulang ke rumah Aku aja”

            “Kamu pulang diantar Zaki juga berarti?”

            “Iyah, tapi habis nganterin Maya kerumahnya, baru nganterin Aku”

Kenapa harus Zaki. Aku tidak mempermasalahkan Zaki mengantar Ai saat itu, karena memang kita berteman baik dari dulu. Tapi keadaan lagi tidak bagus sekarang, dan kenapa harus Zaki. Aku pun marah kepada Zaki dan ingin rasanya aku memukul Zaki. Febri yang ada di dekatku mencoba menenangkanku, bahwa semuanya baik-baik saja, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

            “Tenang San, mereka mungkin lagi kunjungan ke rumah teman-teman, sama kaya kita juga” Ucap Febri menenangkan.

            “Iyah Feb, tapi kan aneh aja gitu, dari pagi aku hubungi si Ai, Zaki, dan Maya tapi tidak ada menjawab, kemudian tiba-tiba mereka sedang jalan bertiga tanpa mengajak aku Feb. Bukankah aku masih ada hubungan sama Ai juga?” Aku membalas ucapan Febri dengan nada emosi.

            “Yaudah sekarang baiknya gimana?”

            “Kita temuin si Ai Feb, sekalian Aku mau balikin powerbank punya Dia”.

            “Okeh, tapi kamu harus tenang dulu, jangan kebawa emosi, apalagi nanti ada si Zaki kan, jangan berpikir macem-macem dulu pokoknya harus tenang”

 

Sore itu, Aku dan Febri sudah tiba di tempat tujuan dan menunggu mereka datang. Terlihat dari arah kejauhan motor Zaki melaju pelan dengan membonceng Ai. Melihat itu, emosiku pun semakin tak terbendung.

            “Maksudnya apa nih Zak?” Tanya Aku.

            “Si Ai aja yang jelasin, aku mah gak ikut-ikutan San”

            “Nanti aku jelasin lewat telepon aja, sekarang sudah cape mau pulang” jawab Ai.

            “Yaudah, ini powerbank yang aku pinjem dulu, aku balikin, maaf kalau dayanya sudah habis, tadi dipake sama si Febri”

            “Iyah tidak apa-apa” jawab Ai.

            “Zak, nanti bales pesan aku”

            “Iyah, siap” Zaki menjawab santai.

Sore itu semuanya pulang kerumah masing-masing. Di perjalanan pulang, aku dan Febri mampir di warung pinggir jalan.

            “Feb menurut kamu gimana?”

            “Gimana apanya, pacar-pacar siapa, kok nanya aku San”

            “Yah menurutmu gimana kejadian tadi?”

            “Yang jelas, si Zaki beneran gak terlibat kayaknya. Mungkin si Ai lagi butuh waktu untuk sendiri”

            “Sendiri? Tanpa kabar begitu saja?”

            “Iyah”

            “Berarti, maksudnya keberadaan Aku itu mengusik Dia gitu?”

            “Yaaa, mungkin saja kan, kita tidak tau perasaan seseorang San”

            “Tapi salah Aku apa Feb?”

            “Mana kutahu, kamu aja gak tahu, malah nanya orang lain”

            “Terus sekarang gimana?”

            “Sekarang mah pulang, tapi jangan lupa isiin dulu bensin nih, udah nebeng harus sadar diri yah”

            “Ah elah Feb, teman lagi susah kok bahas gituan”

            “Lebih susah lagi kalau Aku kehabisan bensin San”

Menjelang Magrib, kami berdua sudah pulang kerumah masing-masing. Aku kirim pesan kepada Ai, tetapi tidak ada balasan. Sampai malam aku tunggu, gelisah. Balasan pun tak kunjung ada. Aku tak paham dengan kondisi seperti ini. Sepanjang malam aku selalu memikirkan kesalahanku apa. Padahal semuanya baik-baik saja. Tak pernah ada drama pertengkaran.

###

Agustus, 2015

Penjelasan tentang kejadian saat itu tak pernah dibicarakan lagi. Hubunganku semakin renggang. Tak pernah ada pesan sama sekali semenjak saat itu. Beberapa hari lagi, Ai harus berangkat ke Karawang lagi karena masa liburannya sudah habis. Aku bahkan tak sempat mengobrol, jalan-jalan, atau sekedar makan bersama saat Dia pulang. Sekarang pun, rasanya canggung sekali untuk mengajaknya keluar. Tiba-tiba diluar rumahku terdengar suara motor.

            “San, ada di rumah kan?”

            “Siapa sih, kok tiba-tiba dating ke rumah tanpa ada pesan” Aku heran.

Segera aku buka pintu rumah dan tampak temanku, Agung, sudah sangat siap menjemput untuk pergi bermain keluar.

            “Mau kemana Gung?” Tanya Aku.

            “Kemana aja lah” Nada Agung seperti merasa kesal.

            “Kamu kenapa Gung”

            “Nanya nya nanti aja, sekarang kita ke rumah si Niki dulu, Aku diberi kabar oleh si Maya bahwa si Niki sedang ada dirumahnya”

            “Oh mau beresin masalah yah, biar  jelas?” Tanya Aku.

            “Iyahlah, cowok mah harus gitu”

Seketika omongan Agung seperti menyindirku. Aku yang dari kemarin hanya bisa berdiam diri dirumah menunggu kepastian dan penjelasan Ai, mungkin akan lebih baik jika aku datang langsung ke rumahnya. Tak banyak pikir pajang, Aku pun langsung pergi ke rumah Niki bersama Agung.

            “San nanti pas sampai rumahnya, mau ikut masuk ke dalam atau nunggu di luar aja? Aku gak lama kok cuma mau kejelasan dari pernyataan Dia aja, kalau memang benar putus ya berarti sudah aja, sudah jelas, tetapi Aku juga butuh alasannya” ucap Agung.

            “Gimana nanti aja Gung, emang kamu yakin kalau kita berdua diizinin masuk?”

Sesampainya dirumah Niki, kita berdua mengetuk pintuk beberapa kali dan tidak ada jawaban. Setelah sekian lama, akhirnya Ibunya Niki keluar dan mempersilahkan kita masuk. Aku dan Agung pun duduk di ruang tamu.

            “Nikinya ada Bu?” Tanya Agung.

            “Ada kok Gung, tunggu sebentar yah, Ibu panggilin dulu”

Sudah tiga puluh menit berlalu, Niki pun tidak kunjung keluar. Terdengar ada obrolan pelan dari arah kamar Niki. Aku semakin ragu Niki akan menemui Agung.

            “Gung, kayaknya si Niki gak mau keluar deh?”

            “Iyah, parah amat nih masa kita dibiarin kaya gini sih, apa kita pulang aja yah?”

            “Yaudah kita tunggu sebentar lagi, kalau masih gak ada respon baru kita pulang”

Tiba-tiba Niki keluar dari pintuk kamar dan langsung menghampi kita di ruang tamu.

            “Ada apa ya Gung? Bukannya semuanya sudah selesai yah?” Tanya Niki.

Agung yang sudah hilang kesabaran pun , akhirnya tidak banyak bicara dan langsung pamitan pada saat itu juga.

            “Oh begitu yah, yaudah terima kasih”

            “Iyah, sama-sama” jawab Niki.

Kejadian yang lebih aneh menurutku. Bahkan ini lebih aneh daripada masalahku. Aku tidak ingin terlalu ikut campur urusan meraka. Aku berusaha menenangkan Agung.

            “Gung, jalan-jalan ke Salabintana aja yuk, menenangkan pikiran disana”.

            “Iyah lah ayo kemana aja, sumpek banget San”.

Diperjalanan terasa sekali sekali amarah Agung dilihat dari cara dia mengendari motor. Aku merasa was-was.

            “Gung, hati-hati”

            “Iyah tenang aja”

Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai tempat tujuan. Disana kita disuguhkan pemandangan yang asri dan suasana yang sejuk. Kami berdua mulai menyusuri jalan dengan cara berjalan kaki. Melihat pemandangan sekitar. Orang-orang yang sedang menggelar tikar. Ibu-ibu yang sedang mengejar-ngejar anaknya. Sekumpulan orang yang sedang asyik berpoto ria.

Setelah puas berjalan-jalan, akhirnya kita berdua rehat sejenak dan duduk di warung. Kemudian Agung membuka gawai nya dan melihat-lihat aplikasi Instagram.

            “Gung, aplikasi apa itu? Mirip Facebook yah?” Tanya Aku

            “Eh jauh banget lah kalau sama Facebook, ini Instagram aplikasi yang sedang kekinian San, kamu gak punya emangnya?” ejek Agung.

            “Enggak punya , emangnya seru yah?”

            “Coba aja install sendiri deh”

Aku langsung membuka gawaiku dan men-download aplikasi tersebut. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Aku pun berhasil men-download dan mendaftar di akun tersebut.

            “Gung, mana coba liat username kamu apaan”

            “Nih, San”

            “Wih udah banyak juga yah potonya”

            “Iyah, tapi jangan banyak-banyak juga tar disangkanya alay”

            “Gung tau username si Ai gak?”

            “Gak tahu, coba aja cari pake nama aslinya”

Aku langsung melakukan seperti yang dikatakan Agung. Setelah ku cari-cari dengan begitu banyak nama yang sama, akhirnya aku menemukan akun yang aku cari. Langsung aku stalk semua feed nya. Aku berhenti disebuah poto yang menurutku aneh. Aku bertanya pada Agung.

            “Gung, ini tanda apa?”

            “Itu tanda ‘tag’, si Ai berarti menandai akun orang lain”

            “Tapi ko menandai akun cowok yah?”

            “Coba aja buka akun cowoknya”

Sontak aku kaget pada saat itu. Saat kubuka akun cowok tersebut, ada sebuah poto Ai yang sama percis dengan poto di feed Ai. Saat itu, aku berpikir mungkin cowok tersebut adalah saudara Ai. Aku lihat-lihat lagi postingannya yang lain. Berusaha berpikir positif. Tapi hati tidak bisa berbohong. Rasanya campur aduk. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ku tanyakan. Tapi tak pernah ada kesempatan untuk bertemu. Aku yang terlalu pengecut atau memang sudah seharusnya begini. Yah, lagi-lagi prinsip determinasi ku muncul. Sesuatu yang seharusnya terjadi maka memang harus terjadi. Tak pernah ada perlawanan, pejuangan, ataupun pengorbanan terhadap hubungan ini. Sepanjang perjalanan pulang, Aku terus bertanya-tanya. Kenapa? Siapa? Bagaimana ini semua bisa terjadi, sedangkan Aku saja tidak merasakan ada sebuah masalah sebelumnya. Apakah Aku telah membuat orang terdekatku merasa tidak nyaman? Apakah aku tidak berkorban sedikitpun? Aku terus menerus berusaha berpikir positif bahwa akulah penyebabnya. Ya. Memang akulah penyebabnya. Aku yang selalu sibuk dengan dunia perkuliahanku sehingga tidak ada waktu sedikitpun untuk berkomunikasi dengan Ai. Bahkan sekedar bertanya kabar pun jarang. Aku tahu, Akulah penyebabnya. Sekarang Aku hanya ingin penjelasan langsung dari Ai. Siapa orang itu dan kenapa semua ini terjadi.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, berusaha menenangkan diri terlebih dahulu. Dan kemudian aku kirim semua bukti yang ada kepada Ai lewan sebuah pesan whatsapp.

            “Ay, ini siapa yah? Maksudnya apa?” Tanya Aku.

Tak selang berapa lama, Ai langsung meneleponku dan berkata.

            “Kita sudah putus dari bulan April kan, kenapa masih saja diungkit San” ucap Ai.

            “Hah, putus? Sejak kapan?”

Aku merasa heran dengan semua ini. Aku merasa tidak pernah menyatakan apapun. Ya itulah kesalahannya. Aku tidak pernah menyatakan apapun, bahkan menyatakan kalau setiap hari aku memikirkan Dia pun tidak pernah. Aku terlalu pengecut. Dipecundangi keadaan. Aku tahu bahwa wanita itu butuh perhatian yang nyata, bukan hanya dari pesan-pesan singkat saja.

Hampir satu jam lebih aku mendengarkan cerita Dia, dan akhirnya aku menyerah. Ya, Dia menangis. Aku tahu air mata itu mengalir karena kesalahanku. Aku yang tak pernah ada untuknya, bahkan saat dia dalam keadaan sulit pun aku terus sibuk dengan duniaku sendiri.  Kadang saat Dia ingin menceritakan kesehariannya bekerja, Aku sudah terlalu lelah hingga tidak ada waktu untuk membalas pesannya.

            “Aku minta nomor cowok itu, boleh?”

            “Buat apa San, semuanya sudah beres tak perlu ada penjelasan lagi bukan”

            “Aku hanya ingin mengobrol sebentar saja dengannya, tidak lebih”

            “Yaudah, tapi janji jangan buat masalah”

Aku memberanikan diri untuk menghubungi cowok tersebut. Walaupun sebenarnya Aku bukan tipe yang bisa langsung marah. Tapi lagi-lagi aku hanya ingin semuanya jelas.

            “Ini dengan cowok barunya Ai ?”

            “Ya ada apa?” kemudian cowok tersebut membalas.

            “Oh tidak ada apa-apa, tolong jagain Ai”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Marah pun tak bisa. Dasar pengecut. Aku bahkan tidak bertanya apakah dia itu Saudaranya atau bukan. Tapi dilihat dari manapun, poto di Instagram itu tidak terlihat seperti dua orang bersaudara yang sedang jalan-jalan.

Selang beberapa hari dari kejadian itu. Ai kembali berangkat ke Karawang. Aku bahkan tak sempat bertemu kembali dengannya. Mungkin itu pertemuan terakhir bagiku. Setiap hari aku hanya bisa melihat kesehariannya lewat Snapgram yang Dia buat. Keadaanku mulai kacau saat itu. Liburanku tak karuan. Teman-teman yang lain sudah mulai bekerja kembali. Aku mengunjungi teman lamaku untuk meminta Anime , semoga saja aku bisa sibuk menonton dan melupakan kesedihanku ini.

Aku semakin larut dalam kesedihan saat itu. Banyak sekali teman-teman yang sudah kurepotan hanya karena agar aku bisa kembali ceria. Agus, Ari, Aldi, Bayadi, Zaki, dan yang lainnya sudah puas dengan ocehanku setiap hari yang bercerita tentang kisah cintaku yang kandas. Mereka selalu berbicara bahwa di Jakarta sana Aku bisa menemukan banyak cewek. Ya, memang, tapi pada kenyataan tak ada satupun yang aku suka.

Minggu depan, aku sudah harus kembali berkuliah. Dengan suasana baru. Berusaha menyembunyikan kesedihanku. Semua barang bawaan kupersiapkan dengan baik. Dan aku mulai menekuni hobi lamaku yang sempat vacuum, menggambar. Aku bertanya-tanya peralatan untuk menggambar kepada Ganjar dan Iki, teman semasa kecil yang juga mempunyai hobi yang sama sepertiku. Mungkin dengan menyalurkan hobi, kesedihanku akan terobati. Gambar pertamaku dimulai dari gambar anggota personil Schiffer Band. Sebuah band yang beranggotakan Aku, Iki, Ganjar, Ari, dan Agus. Gambar pertamaku langsung ku unggah melalui Instagram. Respon dari teman-temanku pun sangat baik. Banyak sekali yang ingin digambarkan olehku. Saat itu, sejenak kesedihanku terlupakan. Tapi bukan berarti rasa sakit itu sudah sembuh. Aku pun tak bisa berbohong saat itu. Semakin banyak gambar yang kubuat, berarti semakin aku tak bisa melupakan kesedihanku. Selama bertahun-tahun aku terus menggambar demi menutupi kesedihan itu. Bahkan temanku pun rasanya sudah bosan dengan curahan hatiku. Mereka selalu menasihatiku agar bisa move on dan melupakan kejadian yang sudah terjadi. Tapi tak semudah itu. Aku selalu mengingat kesedihan itu. Selalu aku ingat.

###


Agustus, 2018

Tiga tahun berlalu.

Aku masih saja teringat kenangan itu. Kenangan yang membuatku bertanya-tanya. Kenapa wanita begitu sulit dimengerti pikirku. Selama bertahun-tahun aku tidak bisa melewati masa-masa sulit itu. Meskipun hubunganku sudah berakhir, bukan berarti Aku dan Dia saling membenci satu sama lain. Setidaknya itu yang Aku rasakan. Kita berdua masih ada dalam satu grup sekolah yang sama dan disitu masih ada interaksi antara aku , dia dan teman-teman yang lain.

Saat ini aku sudah menyelesaikan perkuliahanku. Hanya tinggal menunggu wisuda saja di bulan September nanti. Aku pun menghabiskan waktu di Sukabumi dengan cara berkunjung kesana kemari menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman yang masih ada waktu untukku. Tak jarang, aku pun mencari lowongan pekerjaan di sebuah situs internet. Berharap dapat pekerjaa sebelum wisuda nanti. Tapi lebih sering aku habiskan waktuku dengan menonton Anime dan bermain gitar.

Kemudian seorang dosen memberiku sebuah job untuk menyusun dan mengedit sebuah buku tentang kimia. Aku pun tertarik. Karena memang itu masih berkaitan dengan tugas akhir kuliahku. Saat aku berfokus pada tugasku, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari seseorang yang tak terduga.

            “San, gimana kabarnya?”

            “Oh iyah baik, kamu sendiri?”

            “Baik juga, lagi sibuk apa San?”

Ya. Ai menghubungiku lagi saat itu. Sepersekian detik aku sempat merasa bahagia, tapi aku tahu hal itu tak terjadi. Tak kan seperti ekspektasiku.

            “Nggak sibuk apa-apa sih, lagi free juga baru kelar siding skripsi” jawabku

            “Oh gitu, boleh minta bantuannya gak?”

            “Bantuan apa Ay?”

            “Kamu kan dulu suka ngedit-ngedit gitu yah? Boleh minta tolong buatin brosur dan poster penelitian gak?”

            “Oh iyah boleh aja,tapi deadline nya masih lama kan?”

            “Iyah masih lama kok”

            “Yaudah kirimin aja bahannya ke email”

            “Oke , Aku segera kirimin yah”

            “Btw, ini mau desain kayak gimana yah?”

            “Gimana aja deh bagusnya yah, Aku gak terlalu paham”

            “Yaudah tapi jangan complain kalau ada yang kurang bagus yah”

            “Oke siap”

            “Oh iyah, kuliah kamu gimana? Ini buat tugas kuliah bukan?”

            “Lancar aja San, doain juga tahun depan bisa lulus tepat waktu, itu tugas buat temen kantor Aku sih, tapi gak apa-apa kan yah”

            “Oh syukurlah. Iyah gak apa-apa” jawabku

Obrolanku mengalir begitu saja seperti seorang teman pada umumnya. Entah kenapa Aku pun merasa nyaman dengan hal itu. Aku tidak berharap hubunganku kembali. Tapi dengan cara tersebut sepertinya sedikit rasa sedih dan rasa galau mulai hilang. Mungkin Aku hanya butuh ngobrol. Pikirku.

            “Oh ya Ay, aku liat kamu punya pacar baru lagi yah, bukan yang kemarin?”

            “Iyah San, do’ain aja yah semoga lancar sama yang ini” jawabnya

            “Oke Ay, semoga yang disegerakan segera tercapai ya”

Saat mendengar itu, harapanku sudah benar-benar tidak ada. Padahal, ini sudah hampir tiga tahun dari kejadian itu. Dan aku masih saja berharap. Tapi lambat laun, Aku pun mulai menyerah untuk berharap Dia kembali.

            “Kamu sama si Prita gimana juga San?”

            “Lah kok jadi Prita?”

            “Bukannya dulu pas kita renggang, kamu deket sama Prita yah?”

            “Hah, tau darimana? Perasaan Aku gak pernah cerita apa-apa” jawab Aku

            “Atau jangan-jangan balikan lagi sama si Ijeum yah?” Tanya Dia.

            “Enggak kok, gak balikan sama Dia”. Aku mulai merasa canggung.

            “Ya kan gak masalah juga kalau balikan, yaudah pokoknya Aku minta tolong yang tadi itu yah, Aku sibuk dan kuliah juga soalnya, makasih ya San”

            “Iyah nanti Aku kabarin kalau sudah jadi” jawabku.

            “Oh iya, masa lalu cukup kita jadikan pelajaran aja yah, mungkin kita emang gak berjodoh jadi jangan terlalu memaksakan diri sendiri yah”.

Keesokan harinya, Aku kumpul dengan teman-teman kelasku dirumah Ina. Letak rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi tidak terlalu memakan waktu untuk bisa sampai kesana.

Terlihat disana sudah berkumpul teman-teman lamaku. Icus, Maya, Ina, Aldi, Ari, Aldi, Agus, dan masih banyak lagi. Aku pun bercerita tentang Ai yang meminta tolong kepadaku untuk mengerjakan tugasnya.

            “Eh Dak, kemarin si Ai chat nanyain kabar” Aku berusaha membuka percakapan.

            “Ah bosen lihat Loe galau mulu, move on atuh, ini sudah tahun berapa woy” sahut Aldi.

            “Eh tapi beneran”

Terlihat semua orang tidak peduli dengan ceritaku. Memang benar. Sepertinya Aku harus move on dari kondisi seperti ini. Mereka pun sibuk dengan cerita masing-masing dan aku hanya bisa memperhatikan saja. Aku merasa senang jika melihat mereka kumpul seperti itu. Meskipun aku kehilangan pacar, paling tidak aku masih mempunyai teman-teman yang selalu ada saat itu. Semoga kalian semua tetap mengingat masa-masa bersama ini. Meskipun beberapa tahun lagi kalian akan berada di jalan yang berbeda. Harapku.

 

Beberapa minggu kemudian,

            “Ay tugas kemarin udah aku kirim lewat e-mail yah, kalau ada yang kurang di cek aja lagi” Aku mengirim pesan segera setelah menyelesaikan tugasnya.

            “Oh iya San, maaf baru bales, oke aku cek dulu yah”

            “Gimana Ay, ada yang kurang tidak?”

            “Enggak San, udah bagus ini. Terima Kasih yah”

            “Iyah sama-sama”

Chatingan itu mungkin akan jadi yang terakhir. Karena Dia memberikan sebuah informasi bahwa akan menikah di bulan Desember nanti. Aku pun hanya bisa terdiam. Mencoba ikut senang. Perasaanku hampa saat itu. Tak ada harapan lagi, tapi juga tidak merasa kesal.

Jika waktu bisa kuputar kembali, mungkin aku akan memperbaiki hal salah yang sudah kulakukan. Tapi itu tidak mungkin, justru karena waktu tidak bisa kembali kita harus bisa menghargai waktu. Hargai Dia yang ada saatmu sekarang. Sekarang bukan saatnya menyesali kejadian yang sudah terjadi. Tapi sekarang saatnya untuk mengambil sikap menghadapi masa yang akan datang.

Aku bersyukur Dia dipertemukan dengan lelaki yang bisa segera menikahinya. Jika seandainya Dia masih tetap bersamaku, entah sampai kapan Dia akan sabar menunggu. Aku bersyukur, disaat tak ada seorang pun yang menemaninya di perantauan, Dia bisa segera menemui jodohnya. Ada yang menjaganya. Aku tahu, Aku tak akan bisa melakukan semua hal itu. Aku memang bukan orang yang tepat untuknya. Kalau pun aku meminta memperbaiki hubunganku saat itu, pasti akan lebih terlihat memaksakan dengan kondisi saat ini.

Dia adalah wanita yang kuat menurutku. Disaat Aku kuliah, Dia sudah bekerja, mandiri di kota orang. Jauh dari sanak saudara. Berusaha mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Bisa semangat kuliah walaupun dihadapkan dengan sibuknya pekerjaan, menurutku itu sudah sangat hebat. Aku yang kadang ngomel jika ada kuliah jam tujuh pagi, mungkin belum seberapa dibandingkan perjuangannya yang harus berangkat kerja jam enam pagi, kerja selama delapan jam dan sorenya lanjut untuk kuliah. Bahkan disaat Sang Pencipta mengambil orang terdekatnya, Dia masih bisa tersenyum. Aku bersyukur telah mengenalnya.

###

 

Desember, 2018

            “San, udah di Sukabumi kan?” Tanya Icus.

            “Udah Cus, besok berangkat jam berapa?” Tanya Aku

            “Besok kita berangkat jam sebelas siang, nanti dijemput sama Ina, bareng-bareng aja di mobil, jangan ngaret pokoknya yah”

            “Okeh siap Ibu Bendahara kelas”

            “Yo, siapkan dirimu besok Pak Ketua Kelas” jawab Icus

Aku tak tahu apa yang harus dipersiapkan. Mungkin mental. Tapi aku merasa lega Dia akan menikah. Entah kenapa, bebanku terasa sedikit berkurang.

Terdengar suara mobil di depan rumahku. Aku pun sudah mengira itu pasti teman-temanku. Aku pun segera berganti pakaian.

            “Hah, gak salah San?” Tanya Icus

            “Apanya yang salah Cus?”

            “Pake baju yang rapih kek dikit, jangan kaya keliatan mau main gitu”

            “Gak ada lagi Cus, bajuku semuanya kan di Bogor, yang nyisa tinggal ini aja”

Aku memakai baju berlengan panjang berwarna putih polos dan memakai celana jeans hitam. Tak apa lah pikirku, toh yang punya acara kan bukan Aku. Aku berpikir sangat simple saat itu.

Semakin dekat dengan tempat tujuan, semakin tak karuan. Perasaan yang bercampur aduk. Aku tak tahu harus bersikap  seperti apa nanti. Aku canggung.

Saat itu waktu menunjukan pukul dua belas siang, tapi cuaca mendung. Seakan mewaikili perasaanku saat itu.

            “Ah ini mah kerjaan si Irsan yah” ucap Aldi

            “San, kalau galau gak usah bawa-bawa alam kenapa” ucap Ari

            “Tau nih, udah  dandan rapih-rapih masa kehujanan sih” ucap Maya

            “Apaan sih, emang lagi musim hujan aja kali, mitos banget sih kalian” ucapku

Benar saja, sesampainya ditempat tujuan, hujan disertai angin kencang pun terjadi. Aku tak tahu kenapa alam bisa mewakili perasaanku saat itu. Aku datang dengan membawa hadiah yang sudah dihias oleh temanku. Langkah demi langkah aku lewati, hatiku semakin tak karuan. Suara musik  khas  Sunda semakin terdengar lebih jelas setiap kali aku melangkahkan kaki. Terlihat pasangan pengantin di depanku. Seketika jantungku berhenti berdetak. Pikiranku mempersiapkan kata-kata yang apa yang harus aku lontarkan. Antrian untuk bersalaman dengan mempelai pun semakin panjang. Aku semakin tak siap rasanya.

            “Jangan kaku, santai aja” ucap Ari.

            “Iyah”

            “San, jangan bertindak aneh-aneh yah” ucap Agus

            “Hati-hati Gus, jagain si Irsan” ucap Bayadi

            “Udah tenang aja, gak bakal ngapa-ngapain kok” Aku menjawab mereka semua.

            “Oy cowok-cowok, ayo sini jangan ngobrol mulu” terlihat Ina dan yang lainnya sudah ada di pelaminan dan bersalaman.

            “Siap Bu” serempak kami menjawab

Aku berada di urutan terakhir. Terlihat semuanya bersalaman. Dan tibalah giliranku. Kata-kata yang sudah aku siapkan semuanya sia-sia. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutku. Saat aku menyodorkan tangan untuk bersalaman, aku menutup mata karena berharap semua ini hanya mimpi. Kemudian saaat aku membuka, aku melihat Ai seperti ingin melakukan sebuah “Tos” daripada bersalaman. Aku menaikan tanganku dan kami pun bertos.

Terlihat semua temanku sudah mengambil makanan. Kemudian aku baru menyadari bahwa pakaian pengantin pria nya sama denganku. Ya baju putih dan celana hitam.

            “Kamu sengaja yah pake baju yang sama dengan pengantinnya?” ucap Icus

            “Eh enggak kok, kebetulan aja”

            “Bisa pas gitu yah, tuh liat pengantin pria nya langsung ganti baju gara-gara mantan pacar istrinya datang dengan baju yang sama” kata Icus

            “Ah biar aja, gantengan aku kok Cus”

            “Ngaku ganteng, tapi ditinggalin, sampe sekarang gak laku juga, kasian” ucap Aldi

            “Berisik ah kalian semua, cepetan habiskan makanan kalian, terus kita poto bareng” kata Aku kepada semua temanku.

            “Sejak kapan kamu jadi tukang suruh gitu yah?” Tanya Ina

Setelah selesai menyantap makanan, kami semua pun berpoto-poto dengan pengantin. Terlihat ekspresiku begitu kaku ketika meihat hasil potonya. Tak ada satu kata pun yang bisa aku ucapkan. Bahkan setelah sekian lama tidak bertemu, Aku hanya bisa terdiam melihat senyuman khas yang terpancar dari raut mukanya. Senyuman yang selalu menguatkan orang lain. Senyuman yang menenangkan.

            “Gimana rasanya San, datang ke undangan mantan?” Tanya Icus

            “Lega, berasa gak ada beban lagi”sahutku.

            “Sekarang kita kumpul di rumah Aku dulu yah, jarang-jarang kan kita bisa kumpul bareng kayak gini” ucap Ina

            “Yah benar, kalian bisa kumpul hanya diantara dua kejadian, teman menikah atau teman meninggal” ucap Aku

            “Kata-katamu masih kaya biasa yah, suram banget” Ucap Ina.

###

Tak akan ada masa depan jika tidak ada masa lalu. Terjebak dalam ingatan masa lalu pun tidak baik. Tapi jangan pula melupakannya. Sekuat apapun kita berusaha, jika sudah takdirnya, kita hanya bisa menerimanya. Jalani apa yang telah menjadi bagian kita. Jika Sang Pencipta berkata lain, maka itu bukan yang terbaik buat kita, atau bahkan kita bukan yang terbaik buat orang lain. Jangan terlalu memaksakan kehendak, pikirkan dampaknya juga untuk orang lain. Jangan egois. Kadang benar menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.

Aku selalu merasa, akulah yang paling dirugikan dalam kondisi saat ini. Akulah korban dari kejadian itu. Tapi aku tidak berpikir bahwa kejadian itu mungkin dampak dari segala perilaku juga. Aku sendirilah yang membuat keadaan menjadi semakin rumit. Egois. Tidak tegas. Pengecut. Itulah kata-kata yang ingin aku lontarkan kepada diriku jika aku bisa memutar waktu untuk melihat diriku di masa lalu. Tak ada pengorbanan sama sekali dalam hubungan itu. Bahkan menyempatkan untuk bertemu saja , Aku tidak bisa berkorban. Selalu beralasan dengan banyakya tugas kuliah yang menyebabkan aku tidak bisa bertemu.

Tidak ada yang rumit dalam cerita ini. Hanya pikiranku yang perlu diperbaiki. Aku terlalu berharap bahwa semuanya masih bisa seperti dulu. Berkumpul bersama. Bermain bersama. Semua orang pasti akan berubah. Aku tidak bisa lagi terjebak dalam kenangan masa lalu. Aku harus terus maju. Daripada menyesali hal yang sudah terjadi, lebih baik memperbaiki diri di hari ini.

Aku tidak pernah membencimu. Aku kagum.

###

 

Keesokan harinya,…

            “San, bangun udah siang, mau berangkat jam berapa ke Bogor?” Ibuku memanggil.

            “Iyah Mah, bentar lagi masih ngantuk”

            “Pantes aja ditinggal nikah, bangun pagi aja susah, bagaimana mau bangun rumah tangga?” Ucap Ibuku sambil pergi ke dapur untuk memasak.

Seketika aku langsung terbangun, mandi, sarapan dan langsung membereskan barang-barangku. Aku memang tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki suatu persoalan. Akan tetapi, menceritakanya kepada muridku mungkin akan menjadi hal yang menarik. Setidaknya mereka jadi tahu, jika menginginkan suatu hal itu butuh pengorbanan.

            “Mah, berangkat yah”

            “Iyah hati-hati, kabarin jika sudah sampe”

            “Iyah Mah”

Let it go …

 



 

Komentar